Komponen permasalahan

Penelitian adalah usaha yang secara sadar diarahkan untuk mengetahui atau mempelajari fakta-fakta baru. Dapat pula penelitian diartikan sebagai penyaluran hasrat ingin tahu manusia. Hasrat ingin tahu inilah yang mendorong manusia untuk melakukan kegiatan penelitian. Jadi, mengadakan suatu penelitian adalah mempertanyakan sesuatu hal untuk mendapatkan jawabannya.

Berdasarkan atas tujuannya penelitian dapat dikelompokkan menjadi dua: a) penelitian yang deskriptif yaitu penelitian yang bertujuan untuk mendapatkan gambaran yang benar mengenai sesuatu obyek, dan b) penelitian yang bersifat analistis, yaitu penelitian yang bertujuan untuk menguji kebenaran dari suatu pendapat.

Tanpa suatu teori yang benar, maka seorang peneliti akan keliru dalam memilih alat analisis, melihat hubungan sebab akibat serta dalam mengumpulkan data. Penentuan variabel-variabel untuk analisis sangat tergantung pada daya khayal peneliti yang ditentukan oleh kemampuannya menguasai teori-teori yang ada.

Penelitian yang baik adalah penelitian yang dapat menghasilkan kesimpulan melalui prosedur yang sistematis dengan mempergunakan pembuktian-pembuktian yang cukup meyakinkan. Hasil penelitian itu tergantung pada pengalaman dan ketrampilan peneliti, tersedianya dana dan lamanya waktu penelitian. Sering suatu anggapan (hipotesis) disimpulkan dapat diterima hanya karena kurangnya data untuk menolaknya.

Sebelum melaksanakan penelitian harus disusun suatu usulan proyek. Usulan proyek adalah suatu usulan tentang rencana penelitian. Usulan ini memuat secara singkat tetapi jelas mengenai permasalahan dan latar belakang penelitian, tujuan penelitian, hipotesis, metode/cara memecahkan permasalahan, jenis dan sumber data, rencana pelaksanaan, pembiayaan, personalia dan lain-lain. Dengan membaca usulan proyek itu, pihak-pihak yang berkepentingan dengan proyek penelitian tersebut dapat mengerti dan paham akan persoalan yang dihadapi. Sebelum menyusun usulan proyek yang sesungguhnya biasanya dibuat terlebih dahulu usulan pokok-pokok penelitian yang ini sering disebut “baby project proposal” atau “terms of reference”. Terms of Reference (TOR) ini biasanya diusulkan oleh klien yaitu pemberi tugas penelitian ataupun oleh peneliti. Kalau TOR diterima, maka kemudian dikembangkan menjadi usulan proyek penelitian atau disebut pula project proposal.

Berdasarkan pengalaman penulis dalam membimbing skripsi dan melakukan penelitian, pada umumnya para calon peneliti bersifat sangat tergesa-gesa yaitu ingin terus saja mulai dengan pelaksanaan penelitian, pengumpulan data, analisis dan interpretasi tanpa memiliki usulan proyek yang baik.

Usulan proyek yang baik adalah usulan yang memiliki permasalahan yang jelas dan yang dapat diteliti, yang selanjutnya dapat dinyatakan dalam bentuk hipotesis sehingga jelas pula tujuan-tujuan yang akan dicapai oleh penelitian itu. Apabila semuanya ini jelas maka prosedur yang akan ditempuh pun dapat diuraikan dengan jelas pula.

Pengumpulan data, analisis dan interpretasi tanpa adanya usulan proyek yang baik dan tegas akan dapat berakibat sebagai berikut:

  1. Terjadi pemborosan baik dana, waktu dan tenaga yang dapat berakibat tidak selesainya penelitian.
  2. Kesimpulan terpaksa diambil atas dasar bukti yang kurang cukup.
  3. Lebih banyak dana dan waktu harus dikerahkan untuk menyelesaikan proyek ini, jika dana dan waktu itu tersedia.

Jadi tanpa usulan proyek yang baik maka nilai dari investasi yang berupa uang, tenaga dan waktu pada proyek penelitian itu akan rendah. Terdapat beberapa komponen dalam menyusun masalah penelitian

Pendahuluan dapat terdiri atas:

1.latar belakang

Latar belakang masalah merupakan uraian informasi sehubungan dengan timbulnya masalah penelitian. Informasi atau data mengenai timbulnya masalah penelitian tersebut perlu dicari untuk mengetahui kedudukan masalah dengan pasti. Apabila latar belakang masalah (informasi tentang seluk beluk masalah) dipelajari dengan baik, penelitian dapat dilangsungkan dengan lancar dan hasilnya pun akan berarti (significant).

Hampir dalam segala bidang kehidupan manusia dijumpai masalah. Masalah tersebut berbeda untuk masing-masing orang. Jenis masalah yang dihadapi pun beragam, ada yang besar, kecil, ada yang mendesak untuk dipecahkan, atau dapat ditangguhkan.

Masalah yang diuraikan tersebut merupakan masalah sehari-hari yang biasanya timbul karena adanya kesenjangan antara kenyataan dan harapan. Akan tetapi, tidak semua masalah tersebut merupakan objek penelitian. Masalah penelitian merupakan fokus perhatian yang mempunyai batas atau ruang lingkup tertentu. Pembatasan ini, membedakan masalah penelitian dengan masalah sehari-hari.

Ada beberapa sumber topik masalah, yaitu:

  1. Diri sendiri, dalam hal ini peneliti mencari masalah yang bersumber pada pengalaman atau pengamatannya sendiri yang berhubungan dengan bidang yang diteliti.
  2. Orang lain, dalam hal ini masalah diambil dari pengalaman atau pengetahuan orang lain, misalnya: ilmuwan atau praktisi.
  3. Sumber lain, misalnya: karya ilmiah atau penelitian bidang tertentu.

. Di dalam bidang sosial misalnya; pengaruh situasi perekonomian terhadap kenaikan kriminalitas; bagaimana menaikkan dukungan rakyat terhadap keputusan-keputusan/kebijaksanaan-kebijaksanaan pemerintah; sikap suatu suku terhadap suku lainnya; bagaimana adat istiadat suatu suku; bagaimana perbedaan antar suku dipandang dari tradisi mereka, kepercayaan mereka, sifat individu mereka; faktor-faktor penyebab kenakalan anak-anak; faktor-faktor penyebab kelesuan mahasiswa; faktor-faktor yang mempengaruhi umur perkawinan, dlsb.

Namun pada umumnya topik selalu dihubungkan dengan keperluan praktis dan teoritis. Banyaknya variasi dalam keperluan praktis akan menimbulkan banyaknya topik untuk keperluan riset. Sebagai contoh misalnya diperlukan informasi sebagai dasar untuk memutuskan apakah memang perlu diadakan fasilitas-fasilitas baru (pengangkutan umum, tempat hiburan umum, rencana kesejahteraan para pensiun, dlsb).

Dalam rencana pemerintah untuk menaikkan gaji pegawai negeri oleh pemerintah harus diketahui berapa sebenarnya pengeluaran minimum untuk keperluan kebutuhan hidup sehari-hari, berapa sebenarnya selisih antara penerimaan dan pengeluaran serta pengeluaran untuk apa yang menunjukkan proporsi tertinggi. Untuk keperluan ini pada tahun 1968, 1978 dan 1988 (sepuluh tahun sekali) Biro Pusat Statistik telah mengadakan survey biaya hidup di beberapa kota besar, misalnya Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, Palembang, Makasar, dlsb. Kemudian diadakan pembaruan (up dating) indek Harga Konsumen yang dipergunakan untuk mengukur tingkat inflasi.

Departemen pertanian misalnya mengadakan riset untuk mencari benih-benih/bibit-bibit padi unggul di dalam rangka untuk menaikkan produksi padi. Juga departemen-departemen atau lembaga-lembaga lainnya melakukan riset dengan berbagai topik atau judul untuk keperluan-keperluan praktis bagi departemen-departemen atau lembaga-lembaga yang bersangkutan. Beberapa perusahaan mengadakan riset pemasaran dalam rangka untuk meningkatkan hasil penjualan.

2. Identifikasi Masalah

Masalah yang harus dipecahkan atau dijawab melalui penelitian selalu ada tersedia dan cukup banyak, tinggallah si peneliti mengidentifikasikannya, memilihnya, dan merumuskannya. Walaupun demikian, agar seseorang ilmuwan mempunyai mata yang cukup jeli untuk menemukan masalah tersebut, dia harus cukup berlatih. Hal-hal yang dapat menjadi sumber masalah, terutama adalah:

(1)   Bacaan, terutama bacaan yang berisi laporan hasil penelitian,

(2)   Seminar, diskusi dan lain-lain pertemuan ilmiah,

(3)   Pertanyaan pemegang otoritas,

(4)   Pengamatan sepintas,

(5)   Pengalaman pribadi, dan

(6)   Perasaan intuitif.

(1)   Bacaan. Bacaan, terutama bacaan yang melaporkan hasil penelitian, mudah dijadikan sumber masalah penelitian, karena laporan penelitian yang baik tentu akan mencantumkan rekomendasi untuk penelitian lebih lanjut dengan arah tertentu. Hal yang demikian itu mudah dimengerti, karena tidak pernah ada penelitian yang tuntas. Kadang-kadang suatu penelitian menampilkan masalah lebih banyak daripada yang dijawabnya. Justru karena hal yang demikian itulah maka ilmu pengetahuan itu selalu mengalami kemajuan.

(2)   Diskusi, seminar, Pertemuan ilmiah. Diskusi, seminar, dan lain-lain pertemuan ilmiah juga merupakan sumber masalah penelitian yang cukup kaya, karena pada umumnya dalam pertemuan ilmiah demikian itu para peserta melihat hal-hal yang dipersoalkannya secara profesional. Dengan kemampuan profesional para ilmuwan peserta pertemuan ilmiah melihat, menganalisis, menyimpulkan dan mempersoalkan hal-hal yang dijadikan pokok pembicaraan. Dengan demikian mudah sekali muncul masalah-masalah yang memerlukan penggarapan melalui penelitian.

(3)   Pernyataan Pemegang Otoritas. Pernyataan pemegang otoritas, baik pemegang otoritas dalam pemerintahan maupun pemegang otoritas dalam bidang ilmu tertentu, dapat menjadi sumber masalah penelitian. Demikianlah misalnya pernyataan seorang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan mengenai rendahnya daya serap murid-murid SMA, atau pernyataan seorang Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi tentang kecilnya daya tampung perguruan tinggi, dapat secara langsung mengundang berbagai penelitian. Pernyataan ahli-ahli pendidikan dan ahli-ahli psikologi mengenai perlu dan tidaknya serta tepat dan tidaknya penjurusan di SMA seperti yang terjadi sekarang ini, dapat menjadi sumber masalah penelitian pula.

(4)   Pengamatan Sepintas. Seringkali terjadi, seseorang menemukan masalah penelitiannya dalam suatu perjalanan atau peninjauan. Ketika berangkat dari rumah sama sekali tidak ada rencana untuk mencari masalah penelitian. Tetapi ketika menyaksikan hal-hal tertentu di lapangan, timbullah pertanyaan-pertanyaan dalam hatinya, yang akhirnya terkristalisasikan dalam masalah penelitian. Seorang ahli ilmu tanah dapat menemukan masalahnya ketika ia menyaksikan keadaan tanah di suatu tempat, seorang ahli kesehatan dapat menemukan masalahnya ketia dia menyaksikan dari mana penduduk mendapatkan air minum, seorang ahli teknologi bahan makanan mungkin menemukan masalahnya ketika dia menyaksikan produksi jenis pangan tertentu yang berlebihan di suatu daerah, seorang ahli psikologi industri mungkin mendapatkan masalah ketika dia menyaksikan bagaimana sejumlah karyawan pabrik melaksanakan tugasnya, dan sebagainya.

(5)   Pengalaman pribadi. Pengalaman pribadi sering pula menjadi sumber bagi diketemukannya masalah penelitian. Lebih-lebih dalam ilmu-ilmu sosial, hal yang demikian itu sering terjadi. Mungkin pengalaman pribadi itu berkaitan dengan sejarah perkembangan dan kehidupan pribadi, mungkin pula berkaitan dengan kehidupan profesional.

(6)   Perasaan Intuitif. Tidak jarang terjadi, masalah penelitian itu muncul dalam pikiran ilmuwan pada pagi hari setelah bangun tidur, atau pada saat-saat habis istirahat. Rupanya selama tidur, atau istirahat itu terjadi semacam konsolidasi atau pengendapan berbagai informasi yang berkaitan dengan masalah yang akan diteliti itu, yang lalu muncul dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan atau masalah.

Adapun sumbernya, masalah penelitian itu hanya akan muncul atau dapat diidintifikasikan kalau calon peneliti cukup “berisi”. Orang yang masih “kosong”, yaitu yang miskin akan pengetahuan mengenai sesuatu cabang ilmu hampir tidak mungkin, atau sekurang-kurangnya sulit, untuk menemukan masalah penelitian.

3. Pembatasan Masalah

Orientasi dan fokus suatu proyek penelitian berfungsi mempersempit informasi dari yang luas dan beraneka ragam menjadi jumlah dan macam tertentu dalam batas jumlah dan macam yang layak untuk dikelola.

Keterangan dan ide-ide tambahan yang kurang perlu harus disisihkan dari permasalahan kita. Masing-masing bagian dari usulan proyek yaitu masalah, hipotesis dan tujuan. Berfungsi mempersempit atau menyaring usulan guna mempertajam fokus, dan mengeluarkan atau menyisihkan keterangan-keterangan extra atau keterangan yang tidak ada hubungannya dengan tujuan kita agar orientasi kita menjadi lebih tepat. Besar kecilnya penyaring kita itu tergantung pada tersedianya sumber daya yang ada. Jadi, usulan yang baik haruslah cocok atau sesuai dengan batasan sumber daya yang berupa dana, waktu dan tenaga.

4. Perumusan Masalah

Penentuan masalah atau memilih keadaan yang akan dipermasalahkan bagi penelitian adalah langkah yang pokok dan penting dalam proses penelitian, terutama penelitian terapan. Jadi permulaan dari proses penelitian itu sebenarnya adalah hal yang terpenting dan juga tersulit dalam proses tersebut. Seringkali baik klien maupun peneliti tidak mengetahui masalah apa yang diteliti. Namun melalui diskusi dan sama-sama mencari, dapatlah akhirnya diketemukan masalah penelitiannya.

Agar lebih mudah diketahui, masalah penelitian itu harus memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

–         Masalah penelitian harus mencerminkan kebutuhan yang dirasakan.

–         Masalah penelitian haruslah bukan hipotesis tetapi fakta, artinya harus tidak dapat diuji.

–         Masalah penelitian dapat menyarankan adanya hipotesis yang berarti dan harus dapat diuji.

–         Masalah penelitian harus relevan dan dapat dikuasai.

  1. Masalah penelitian harus mencerminkan kebutuhan yang dirasakan

Suatu masalah itu akan timbul bila ada kebutuhan yang dirasakan oleh klien atau sponsor. Klien ini bisa perseorangan, sekelompok orang atau suatu masyarakat, mungkin pemerintah atau perusahaan.

Kebutuhan itu harus dirasakan dalam arti bahwa klien percaya akan ada perubahan bila sesuatu dijalankan atas dasar hasil penelitian itu. Agar dapat menjadi masalah penelitian, maka kebutuhan itu harus tanggap terhadap perubahan tadi sebagai hasil dari informasi yang diberikan oleh proses penelitian. Ini berarti bahwa semua kebutuhan yang dirasakan tidak harus mempunyai hubungan fungsional, tetapi harus dimungkinkan bagi formulasi suatu permasalahan yang dapat diteliti.

  1. Masalah tidak boleh bersifat hipotesis

Suatu masalah atau “problem statement” yang akan diteliti haruslah berdasarkan pada suatu fakta, artinya ia benar-benar terjadi. Hubungan yang dinyatakan tidak boleh bersifat masih sementara dan masih disangsikan dalam pikiran peneliti. Peneliti harus menggunakan penilaian pribadi dengan keterangan-keterangan yang tersedia apakah suatu pernyataan itu sudah dapat diterima sebagai fakta atau hubungan yang sudah terjadi dalam masyarakat atau alam ini. Hubungan nyata yang diterima oleh klien maupun oleh peneliti yang dinyatakan dalam perumusan masalah itu tidak perlu diuji lagi kebenarannya. Jika suatu pernyataan tertentu tidak dapat diterima sebagai suatu fakta, maka apabila pernyataan itu ingin tetap dipertahankan ia hanya berkedudukan sebagai hipotesis saja.

Para peneliti dan klien belum tentu akan menerima keterangan yang sama sebagai suatu fakta dari hubungan yang nyata-nyata ada karena penilaian individu (perorangan) serta pengetahuan dan pengalamannya mempengaruhi keputusan mereka. Sebagai misal kita berikan contoh berikut.

Dalam membatasi masalah penelitian yang berhubungan dengan kekurangan produksi mentega, seorang peneliti karena pengalaman dan pengetahuannya yang umum, mungkin bersedia menerima pernyataan bahwa “tidak ada kekurangan peralatan produksi mentega di salah satu bagian produksi”. Bagi peneliti tersebut, pernyataan ini membentuk sebagian dari perumusan masalah. Tetapi bagi peneliti lain, pernyataan di atas mungkin masih disangsikannya dan kurang jelas, maka pernyataan tersebut baru merupakan hipotesis.

Perumusan masalah yang tajam akan dapat dikerjakan asal peneliti benar-benar mempunyai pengetahuan dalam bidangnya, yang ini dapat diperoleh dari bacaan-bacaan yang telah tersedia yang ada hubungannya dengan gambaran umum dari permasalahan yang ingin dipelajari. Inilah tahap pertama dalam proses penelitian yaitu mengadakan studi literatur (“literature review”).

Dalam “literature review” ini peneliti berusaha untuk memanfaatkan pengalaman orang lain guna membantunya dalam memasuki bidang yang akan dikajinya. Pengenalan secara mendalam terhadap bidang khusus itu atau dengan kata lain mengadakan orientasi dapat merubah fokus atau konsentrasi dari usaha penelitian dan dapat mempunyai pengaruh yang berarti terhadap efisiensi dari sumber daya yang tersedia bagi penelitian itu.

  1. Masalah harus menyarankan adanya hipotesis yang berarti dan yang dapat diuji.

Karena perumusan masalah bertindak sebagai pengenalan terhadap seluruh proses penelitian, ia harus menunjukkan hubungan hipotesis yang dapat diuji. Hipotesis dirumuskan sebagai penjelasan sebagian dari hubungan yang belum diketahui yang menimbulkan permasalahan. Hipotesis harus dikembangkan dari pernyataan masalah sedemikian rupa yang memungkinkan untuk adanya pemecahan. Kalau hipotesis yang ditimbulkan kurang menjawab kebutuhan yang sangat dirasakan, maka pernyataan masalahnya kurang tepat dinyatakan.

Misalnya: “konsumsi per kapita bahan makan yang rendah disebabkan oleh terlalu banyaknya penduduk”

Hipotesis ini mungkin dihasilkan dari permasalahan yang menyatakan “terdapat kelaparan di negara ini”

  1. Masalah harus Gayut (relevan) dan dapat dikelola

Ada dua masalah yang perlu dibedakan yaitu:

  1. Masalah yang hasilnya sudah dapat diramalkan tetapi hanya sedikit pengaruhnya terhadap masalah yang harus dipecahkan, dan
  2. Masalah yang terlalu luas sehingga repot dalam mengelolanya.

Untuk yang pertama, misalnya penelitian diadakan terhadap masalah yang sama, hanya ini di daerah lain. Sebenarnya penelitian yang seperti ini tidak perlu diadakan lagi karena keterangan-keterangan yang mirip sudah tersedia dan hasil penelitian yang baru juga kira-kira akan sama dengan hasil yang telah ada.

Kalau peneliti masih kurang pengalaman dan terlalu ambisius atau kurang pemikiran yang serius, maka masalah yang akan dibahas akan terlalu luas. Ini adalah masalah yang kedua tadi yang akhirnya penelitian itu sulit pengelolaannya.

Peneliti yang ambisius cenderung untuk meneliti semua masalah dari suatu sektor tertentu, sehingga ia akan mungkin menjawab semua pertanyaan yang timbul. Juga penelitian yang susah ditangani karena terlalu luas sering timbul karena klien atau sponsor memberikan saran-saran walaupun kurang memahami disiplin penelitian itu. Dalam hal ini peneliti seharusnya tidak menerima begitu saja semua saran, tetapi berusaha merumuskan masalah dan mempersempitnya dalam bentuk usulan proyek sampai ke derajat yang mampu untuk dikelola dalam hubungannya dengan waktu, tenaga dan dana yang tersedia bagi proyek penelitian itu. Suatu proyek yang tidak dapat dikelola dengan baik menghasilkan manfaat yang tidak banyak pula.

Setelah masalah diidentifikasi, dipilih, maka lalu perlu dirumuskan. Perumusan ini penting, karena hasilnya akan menjadi penuntun bagi langkah-langkah selanjutnya. Tidak ada aturan umum mengenai cara merumuskan masalah itu, namun dapat disarankan hal-hal berikut ini:

  1. masalah hendaklah dirumuskan dalam bentuk kalimat tanya,
  2. rumusan itu hendaklah padat dan jelas,
  3. rumusan itu hendaklah memberi petunjuk tentang mungkinnya mengumpulkan data guna menjawab pertanyaan-pertanyaan yang terkandung dalam rumusan itu.

Sebagai ilustrasi di bawah ini disajikan beberapa contoh.

  • Apakah mengajar dengan metode diskusi lebih berhasil daripada mengajar dengan metode ceramah?
  • Bagaimanakah hubungan antara IQ dengan prestasi belajar di perguruan tinggi?
  • Apakah mahasiswa yang tinggi nilai ujian masuknya juga tinggi indeks prestasi belajarnya?
  • Apakah mahasiswa wanita lebih konformistik daripada mahasiswa pria?
  • Apakah mahasiswa Fakultas Ekonomi yang berasal dari jurusan IPA berbeda prestasi belajarnya dari mereka yang berasal dari jurusan IPS?

Ada beberapa pedoman yang dapat digunakan dalam merumuskan masalah, yaitu:

  1. Masalah dirumuskan dengan kalimat tanya yang padat dan jelas;
  2. Rumusannya harus memberi petunjuk kemungkinan pengumpulan data yang dibutuhkan;
  3. Dalam rumusan masalah tersebut juga harus dicantumkan batasan masalah yang jelas; dan
  4. Rumusan masalah menunjukkan hubungan yang ada antara dua peubah (variabel) atau lebih.

Pedoman perumusan masalah di atas, perlu diperhatikan karena rumusan masalah menjadi salah satu dasar penyusunan hipotesis.

Contoh:

  • Apakah ada hubungan antara kelebihan produksi dengan perencanaan produksi PT “X” pada tahun 1985?
  • Apakah ada hubungan antara nilai indeks prestasi (IP) dengan jenis kelamin mahasiswa?
  • Apakah penyuluhan tentang cara pembuatan tambak mempengaruhi hasil ikan tambak di desa “Y”?

Setiap penelitian selalu diawali dengan adanya suatu permasalahan. Dengan pernyataan lain, penelitian tidak akan ada tanpa adanya permasalahan. Permasalahan penelitian yang baik dirumuskan dalam kalimat pertanyaan dan biasanya mencakup dua atau lebih variabel. Misalnya, apakah terdapat hubungan antara kepuasan dan kesetiaan konsumen produk X? Dalam hal ini, variabelnya adalah kepuasan dan kesetiaan terhadap produk X. Contoh lainnya adalah apakah terdapat perbedaan sikap masyarakat kota dan desa terhadap iklan produk Y? Dalam hal ini, variabelnya adalah domisili (kota dan desa) dan sikap terhadap iklan produk Y. Perumusan permasalahan dalam kalimat pertanyaan itu menunjukkan secara jelas bahwa permasalahan itu memerlukan jawaban atau penyelesaian dan informasi yang dibutuhkan sebagai jawabannya. Perlu diketahui bahwa permasalahan dapat mencakup hanya satu variabel.

Tiap kerja meneliti harus mempunyai masalah penelitian untuk dipecahkan. Perumusan masalah penelitian merupakan kerja yang bukan mudah, termasuk bagi peneliti-peneliti yang sudah berpengalaman. Padahal masalah selalu ada di sekeliling kita.

Masalah timbul karena adanya tantangan, adanya kesangsian ataupun kebingungan kita terhadap suatu hal atau fenomena, adanya kemenduaan arti (ambiguity), adanya halangan dan rintangan, adanya celah (gap) baik antarkegiatan atau antarfenomena, baik yang telah ada ataupun yang akan ada. Penelitian diharapkan dapat memecahkan masalah-masalah itu, atau sedikit-dikitnya menutup celah yang terjadi.

Pemecahan masalah yang dirumuskan dalam penelitian, sangat berguna untuk membersihkan kebingungan kita akan sesuatu hal, untuk memisahkan kemenduaan, untuk mengatasi rintangan ataupun untuk menutup celah antarkegiatan atau fenomena. Karenanya, peneliti harus dapat memilih suatu masalah bagi penelitiannya, dan merumuskannya untuk memperoleh jawaban terhadap masalah tersebut. Perumusan masalah merupakan hulu dari penelitian, dan merupakan langkah yang penting dan pekerjaan yang sulit dalam penelitian ilmiah.

Tujuan dari pemilihan serta perumusan masalah adalah untuk:

  • Mencari sesuatu dalam rangka pemuasan akademis seseorang:
  • Memuaskan perhatian serta keingintahuan seseorang akan hal-hal yang baru;
  • Meletakkan dasar untuk memecahkan beberapa penemuan penelitian sebelumnya ataupun dasar untuk penelitian selanjutnya;
  • Memenuhi keinginan sosial;
  • Menyediakan sesuatu yang bermanfaat.

Ciri-ciri masalah yang baik

Sebelum seorang peneliti dapat merumuskan suatu masalah untuk penelitiannya, maka ia lebih dahulu harus mengidentifikasikan dan memilih masalah itu. Walaupun masalah yang ada dan tersedia cukup banyak, tetapi cukup sulit bagi si peneliti untuk memilih masalah mana yang akan dipilihnya untuk penelitiannya. Si peneliti harus mencari masalah yang mempunyai ciri-ciri yang baik, dan si peneliti harus mengetahui sumber serta tempat mencari masalah tersebut.

Ada beberapa ciri-ciri masalah yang harus diperhatikan, baik dilihat dari segi isi (content) dari rumusan masalah, ataupun dari segi kondisi penunjang yang diperlukan dalam pemecahan masalah yang telah dipilih. Ciri-ciri dari masalah yang baik adalah sebagai berikut:

1)      Masalah yang dipilih harus mempunyai nilai penelitian.

2)      Masalah yang dipilih harus mempunyai fisibilitas.

3)      Masalah yang dipilih harus sesuai dengan kualifikasi si peneliti.

Masalah harus ada nilai penelitian

Masalah untuk suatu penelitian tidaklah dipilih seadanya saja. Masalah harus mempunyai isi yang mempunyai kegunaan tertentu serta dapat digunakan untuk suatu keperluan. Dalam memilih masalah, maka masalah akan mempunyai nilai penelitian jika hal-hal berikut diperhatikan

v     Masalah haruslah mempunyai keaslian.

Masalah yang dipilih haruslah mengenai hal-hal yang up to date dan baru. Hindarkan masalah yang sudah banyak sekali dirumuskan orang dan sifatnya sudah usang. Masalah harus mempunyai nilai ilmiah atau aplikasi ilmiah dan janganlah berisi hal-hal yang sepele untuk dijadikan suatu masalah yang akan dipilih untuk penelitian. Tentu sangat menggelikan jika masalah yang dipilih adalah: Apakah warna tahi Ir. Abdurrahman? Masalah yang kita formulasikan tersebut tidak signifikan sama sekali. Dari itu, satu syarat dari masalah yang dipilih adalah masalah haruslah mengenai pertanyaan-pertanyaan signifikan, dimana hal tersebut kurang memperoleh perhatian di masa lampau. Jika hal-hal yang lama ingin dibuat menjadi masalah ilmiah, maka ini dapat diperkenankan jika hal tersebut ingin dihubungkan dengan teknik, atau percobaan atau teori baru, sehingga topik-topik lama menjadi lebih dihargai.

v     Masalah harus menyatakan suatu hubungan.

Masalah harus menyatakan suatu hubungan antara dua atau lebih variabel. Sebagai konsekuensi dari hal di atas, maka rumusan masalah akan merupakan pertanyaan seperti: Apakah X berhubungan dengan Y? Bagaimana X dan Y berhubungan dengan C? Bagaimana A berhubungan dengan B di bawah kondisi C dan D? Masalah yang lebih nyata, misalnya: “Apakah konflik menambah atau mengurangi efisiensi organisasi?” Masalah harus padat, definitif dan dapat dinyatakan dalam beberapa hipotesis alternatif. Masalah dapat saja mengenai hubungan antara fenomena-fenomena alam, atau lebih khas lagi, mengenai kondisi-kondisi yang mengontrol fakta-fakta yang diamati. Selanjutnya, pemecahan masalah tersebut dapat dipergunakan sebagai dasar untuk mengetahui dan mengontrol fenomena-fenomena sedang diteliti.

v     Masalah harus merupakan hal yang penting.

Masalah yang dipilih harus mempunyai arti dan nilai, baik dalam bidang ilmunya sendiri maupun dalam bidang aplikasi untuk penelitian terapan. Bacon sendiri, misalnya, dalam memilih masalah tidak hanya untuk tujuan ilmiah saja, tetapi juga hal-hal yang mempunyai adaptasi hasil untuk fenomena-fenomena sosial. Masalah harus ditujukan lebih utama untuk memperoleh fakta serta kesimpulan dalam suatu bidang tertentu. Pemecahan masalah tersebut seyogianya dapat diterbitkan oleh jurnal ilmu pengetahuan dan digunakan sebagai referensi dalam buku-buku teks.

v     Masalah harus dapat diuji.

Masalah harus dapat diuji, dengan perlakuan-perlakuan serta data dan fasilitas yang ada. Sekurang-kurangnya, masalah yang dipilih harus sedemikian rupa sehingga memberikan implikasi untuk kemungkinan pengujian secara empiris. Suatu masalah yang tidak berisi implikasi untuk diuji hubungan-hubungan yang diformulasikan, bukanlah suatu masalah ilmiah. Hal yang terakhir ini memberikan implikasi bahwa bukan saja hubungan-hubungan harus dinyatakan secara jelas, tetapi juga harus mengandung pengertian bahwa hubungan-hubungan tersebut harus dinyatakan dalam variabel-variabel yang dapat diukur.

v     Masalah harus dinyatakan dalam bentuk pertanyaan.

Masalah harus dinyatakan secara jelas dan tidak membingungkan dalam bentuk pertayaan. Misalnya daripada mengatakan “Masalahnya adalah…,” maka nyatakan masalah dalam bentuk pertanyaan. Akan tetapi, perlu diingat, bahwa bukan semua pertanyaan walaupun begitu menarik, merupakan masalah atau pertanyaan ilmiah, karena masalah tersebut tidak dapat diuji. Misalnya pertanyaan: “Bagaimana kita tahu?” ataupun pertanyaan, “Apakah pendidikan memperbaiki pengajaran anak-anak?” Masalah tersebut sangat menarik, tetapi tidak dapat dipakai untuk suatu pengujian.

Masalah harus fisibel

Masalah yang dipilih harus mempunyai fisibelitas, yaitu masalah tersebut dapat dipecahkan. Ini berarti:

  1. Data serta metode untuk memecahkan masalah harus tersedia,
  2. Biaya untuk memecahkan masalah, secara relatif harus dalam batas-batas kemampuan,
  3. Waktu untuk memecahkan masalah harus wajar,
  4. Biaya dan hasil harus seimbang,
  5. Administrasi dan sponsor harus kuat,
  6. Tidak bertentangan dengan hukum dan adat.

Masalah fisibilitas dalam memilih masalah penelitian harus benar-benar diperhatikan oleh peneliti. Misalnya, dalam tesis S1 dari mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala, yang harus menyelesaikan studinya dalam waktu 4 tahun dengan 1 tahun waktu untuk penelitian, tidaklah mungkin untuk memilih masalah: “Apakah pemuliaan kelapa dengan perkawinan silang akan menambah hasil per hektar?” karena:

  • Pembiayaan yang cukup besar;
  • Waktu yang relatif terlalu lama;
  • Sponsor tidak ada dan kemampuan fakultas yang masih lemah;
  • Equipment untuk itu belum dipunyai fakultas.
  • Data serta metode harus tersedia.

Masalah yang dipilih harus mempunyai metode untuk memecahkannya dan harus ada data untuk menunjang pemecahan. Data untuk menunjang masalah harus pula mempunyai kebenaran yang standar, dan dapat diterangkan. Misalnya, jika masalah yang kita pilih berkenaan dengan jatuhnya kerajaan Romawi, maka masalah tersebut sukar dipecahkan karena kompleksnya masalah, dan terdapat kekaburan data tentang jatuhnya kerajaan Romawi. Karena terbatasnya data mengenai konsumsi beras serta pendapatan di Aceh, misalnya, maka tidak mungkin melihat apakah terdapat perubahan terhadap marginal propensity to consume dari beras di Aceh sejak tahun 1961 sampai dengan 1980? Karena keterbatasan ilmu seorang sarjana, maka relatif sukar menentukan berapa besar pengaruh adanya 7 industri besar terhadap under-employment di Aceh, karena metode mengukur pengaruh serta mengukur under-employment belum lagi dipelajari oleh peneliti lulusan S1.

  • Equipment dan kondisi harus mengizinkan.

Masalah yang dipilih harus sesuai dengan equipment dan alat yang tersedia. Walaupun equipment, tidak perlu yang muluk serta kompleks, tetapi equipment yang dipunyai haruslah dapat digunakan untuk memecahkan masalah. Masalah yang dipilih harus mempunyai equipment untuk kontrol kondisi ataupun untuk mencatat ketepatan.

Alat yang paling penting dalam memecahkan masalah adalah pikiran manusia itu sendiri (the mind of man). Banyak penemuan ahli-ahli tidak menggunakan equipment dan laboratorium yang komplit. Laboratorium Pasteur adalah kamar yang menyerupai gua. Goodyear menemukan vulkanisasi dalam dapurnya di New England, sedangkan Mozart menemukan sejak kuartet Magio Flute di rumah bola ketika sedang main bilyar. Dalam hal ini, yang menentukan pemilihan masalah adalah kondisi yang cukup mendukung untuk pemecahan masalah. Dengan suasana yang tenang, masalah serta penulisan Sejarah India telah dikerjakan oleh James Mill pada satu sudut meja, sedangkan di sudut yang lain duduk anaknya John Stuart Mill mempelajari bahasa Yunan. Descartes terpaksa meninggalkan masalah-masalah akibat banyak sekali teman-temannya yang selalu mengganggu. Von Braun baru sukses merumuskan masalah misi angkasa setelah ia hijrah ke Amerika Serikat.

  • Biaya untuk memecahkan masalah harus seimbang.

Biaya untuk pemecahan masalah harus selalu dipikirkan dalam memilih masalah. Jika pemecahan masalah di luar jangkauan biaya, maka masalah yang ingin dipilih tidak fisibel sama sekali. Mencocokan masalah dengan biaya merupakan seni serta keterampilan peneliti.

Masalah yang dipilih janganlah sekali-kali dikaitkan untuk kepentingan sendiri, dalam arti untuk memperoleh keuntungan pribadi. Tidak heran jika kita lihat bahwa Charles Goodyear yang menemukan vulkanisasi karet meninggal dunia dengan meninggalkan hutang sebesar 200 dollar Amerika, ataupun Le Blanc, ilmuwan Prancis yang menemukan cara memperoleh alkali secara murah meninggal dunia dalam rumah miskin di Prancis. Camkanlah kata Pasteur: “Saya tidak akan bekerja untuk uang, tetapi saya akan selalu bekerja untuk ilmu pengetahuan.” (I could never work for money, but I would always work for science).

  • Masalah harus didukung oleh sponsor yang kuat.

Masalah yang dipilih harus mempunyai sponsor serta administrasi yang kuat. Lebih-lebih lagi bagi penelitian mahasiswa, maka masalah yang dipilih harus diperkuat dengan adviser, pembimbing ataupun tenaga ahli yang sesuai dengan bidangnya. Dalam penelitian-penelitian besar, maka masalah yang dipilih harus didukung keuangannya oleh sponsor yang kuat. Charles Darwin, adalah bangsawan Inggris yang kaya, yang dapat mendukung pemilihan masalah dalam penelitiannya. Lavoiser, adalah seorang ilmuwan yang memperoleh pendapat setahun sampai √60,000 dan banyak menggunakan uang tersebut untuk penelitian.

  • Tidak bertentangan dengan hukum dan adat.

Masalah yang dipilih harus tidak bertentangan dengan adat-istiadat, hukum yang berlaku, maupun kebiasaan. Pilihlah masalah yang tidak akan menimbulkan kebencian orang lain. Janganlah memilih masalah yang dapat menimbulkan pertentangan baik fisik maupun itikad. Karenanya, masalah yang akan menimbulkan kesulitan, pertentangan, baik secara individu, ataupun kelompok, haruslah dihindarkan, demi menjaga kesinambungan profesionalisme dalam meneliti.

Masalah harus sesuai dengan kualifikasi peneliti

Masalah yang dipilih, selain mempunyai nilai ilmiah serta fisibel, juga harus sesuai dengan kualifikasi si peneliti sendiri. Dalam hal ini, masalah yang dapat dipilih sekurang-kurangnya:

  • Menarik bagi si peneliti

Masalah yang dipilih harus menarik bagi si peneliti sendiri dan cocok dengan bidang kemampuannya. Seorang ahli pertanian haruslah memilih judul mengenai pertanian. Tidaklah wajar, misalnya, seorang sarjana pertanian memilih masalah penelitiannya: apakah faktor-faktor penyebab penyakit lumpuh pada anak-anak? Ataupun seorang sarjana hukum memilih masalah yang berbunyi: apakah terdapat pengaruh pemangkasan kopi terhadap frekuensi berbuah? Masalah yang dipilih harus menarik keingintahuan si peneliti dan memberi harapan kepada peneliti untuk menemukan jawaban ataupun menemukan masalah lain yang lebih penting dan lebih menarik.

  • Masalah harus sesuai dengan kualifikasi.

Masalah yang dipilih harus sesuai dengan kualifikasi peneliti sendiri. Dengan perkataan lain, sukar mudahnya masalah yang ingin dipecahkan harus sesuai dengan derajat ilmiah yang dipunyai peneliti. Sudah terang, seorang peneliti yang mempunyai derajat ilmiah doktor akan memilih masalah penelitian yang berbeda dengan seorang insinyur ataupun sarjana hukum. Masalah yang dipilih harus sesuai dengan derajat daya nalar, sensitivitas terhadap data, serta kemampuan peneliti dalam menghasilkan orisinalitas.

Sumber untuk memperoleh masalah

Sebenarnya banyak sekali masalah yang perlu dipecahkan berada di sekeliling peneliti. Yang menjadi kendala untuk memperoleh masalah adalah kesanggupan peneliti menggali dan mengidentifikasikan masalah serta mengetahui sumber-sumber dimana masalah penelitian diperoleh dengan mudah. Sumber-sumber di mana masalah diperoleh antara lain sebagai berikut:

  1. Pengamatan terhadap kegiatan manusia.

Pengamatan sepintas terhadap kegiatan-kegiatan manusia dapat merupakan sumber dari masalah yang akan diteliti. Seorang ahli ilmu jiwa, dapat menemukan masalah ketika ia melihat tingkah laku pekerja pabrik melakukan kegiatan mereka dalam pabrik. Seorang ahli ekonomi pertanian dapat menemukan masalah ketika ia melihat cara petani bersahaja mengerjakan serta menyimpan hasil usaha pertaniannya. Seoarang dokter dapat menemukan masalah ketika melihat penduduk mengambil air minum di sungai dan buang air di kali, ataupun melihat banyak penduduk mempunyai kaki sebesar kaki gajah.

  1. Pengamatan terhadap alam sekeliling

Peneliti-peneliti ilmu natura seringkali memperoleh masalah dari alam sekelilingnya. Seorang ahli ilmu bintang banyak memperoleh masalah ketika ia mengamati cakrawala. Seorang peneliti ilmu tanah akan menemukan masalah ketika ia secara sepintas mengamati tanah di sekelilingnya ataupun dalam suatu perjalanan jauh. Seorang ahli penyakit tanaman ataupun ahli hama banyak menemukan masalah ketika mengamati tanaman. Seorang peneliti yang bangun pagi untuk melakukan kegiatan olah raga aerobik, tersandung kakinya dengan sebuah batu, dan batu tersebut menyentuh keingintahuannya, maka peneliti ahli batu-batuan tersebut telah menemukan masalah yang ingin diteliti.

  1. Bacaan.

Bacaan-bacaan dapat merupakan sumber dari masalah yang dipilih untuk diteliti. Lebih-lebih jika bacaan tersebut merupakan karya ilmiah ataupun makalah, maka banyak sekali rekomendasi di dalamnya yang memerlukan penelitian lebih lanjut. Bukan saja dari bacaan tersebut ditemukan masalah yang ingin mengungkapkan hubungan, tetapi bacaan dapat juga memberikan teknik dan metode yang ingin dikembangkan lebih lanjut. Membaca hasil-hasil penelitian terdahulu akan memberikan banyak sekali masalah-masalah yang belum sanggup dipecahkan. Hal ini merupakan masalah yang perlu dipecahkan dalam penelitian selanjutnya.

  1. Ulangan serta perluasan penelitian.

Masalah juga diperoleh dengan mengulang percobaan-percobaan yang pernah dilakukan, dimana percobaan yang telah dikerjakan tersebut belum memuaskan. Perluasan analisis maupun metode dan teknik dengan equipment yang lebih modern akan membuat masalah dapat dipecahkan secara lebih memuaskan. Misalnya, kerja Steinhauser telah menemukan minyak codliver untuk menyembuhkan penyakit criket di tahun 1840 belum dapat dijelaskan secara terperinci sampai dengan penelitian selanjutnya bertahun-tahun kemudian. Ataupun penemuan penisilin oleh Fleming di tahun 1929 telah terhenti beberapa lama, sampai kemudian Florey meneliti kembali sifat-sifat penisilin sebagai alat penyembuh penyakit.

  1. Cabang studi yang sedang dikembangkan

Kadangkala masalah ditemukan, bukan dari bidang studi itu sendiri, tetapi dari cabang yang timbul kemudian, yang mula-mula dipikirkan tidak berapa penting sifatnya. Misalnya, ketika Pasteur meneliti penyakit kolera dengan menyuntik ayam-ayam percobaannya dengan mikroba kolera, pada suatu hari ia kehabisan ayam-ayam sehat. Ia kemudian terpaksa menggunakan ayam-ayam yang pernah kena kolera. Dari percobaan ini ia tertarik akan ketahanan ayam-ayam tersebut, dan ia menemukan masalah yang mendorongnya meneliti tentang prinsip-prinsip kekebalan atau imunisasi. Ketika Wiliam Perkins mencoba mengubah aniline menjadi quinine dalam percobaannya, ia menemukan suatu masalah lain yang menghasilkan alat pencelup anniline yang ungu. Begitu juga ketika W.R. Whitney meneliti penggunaan ion air raksa sebagai sumber cahaya, ia menemukan fakta-fakta yang telah menggiring ia merumuskan masalah yang menghasilkan alternating current rectifier.

  1. Catatan dan Pengalaman pribadi

Catatan pribadi serta pengalaman pribadi sering merupakan sumber dari masalah penelitian. Dalam penelitian ilmu sosial, pengalaman serta catatan pribadi tentang sejarah sendiri, baik kegiatan pribadi ataupun kegiatan professional dapat merupakan sumber masalah untuk penelitian.

  1. Praktik serta keinginan masyarakat.

Praktik-praktik yang timbul dan keinginan-keinginan yang menonjol dalam masyarakat dapat merupakan sumber dari masalah. Praktik-praktik tersebut dalam merupakan tunjuk perasaan, pernyataan-pernyataan pemimpin, otorita ilmu pengetahuan baik bersifat lokal, daerah, maupun nasional. Adanya gejolak rasial, misalnya dapat merupakan sumber masalah. Adanya ketimpangan antara input dan produktifitas sekolah dapat merupakan suatu masalah penelitian. Ataupun ucapan ketua ISEI (Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia), ataupun Prof. Dr. Sumitro, dapat merupakan sumber masalah, karena otoritanya dalam ilmu pengetahuan.

  1. Bidang spesialisasi.

Bidang spesialisasi seseorang dapat merupakan sumber masalah. Seorang spesialis dalam bidangnya, telah menguasai ilmu yang dalam-dalam bidang spesialisasinya. Dari itu, akan banyak sekali masalah yang memerlukan pemecahan dalam bidang spesialisasi tersebut. Dalam membuat masalah berdasarkan bidang spesialisasi, perlu juga dijaga supaya masalah yang digali jangan menjurus kepada overspesialisasi. Hal tersebut akan dapat menghilangkan unitas yang fundamental.

  1. Pelajaran yang sedang diikuti

Pelajaran yang sedang diikuti dapat merupakan sumber dari masalah penelitian. Diskusi kelas, hubungan antara dosen dengan mahasiswa banyak mempengaruhi mahasiswa dalam memilih masalah untuk penelitian. Pengaruh staf senior serta ajarannya dapat merupakan sumber masalah bagi mahasiswa yang ingin membuat thesis.

  1. Diskusi-diskusi ilmiah

Masalah penelitian dapat juga bersumber dari diskusi-diskusi ilmiah, seminar, serta pertemuan-pertemuan ilmiah. Dalam diskusi tersebut, seseorang dapat menangkap banyak analisis-analisis ilmiah, serta argumentasi-argumentasi professional, yang dapat menjurus pada suatu permasalahan baru.

  1. Perasaan Intuisi

Kadang kala, suatu perasaan intuisi dapat timbul tanpa disangka, dan kesulitan tersebut dapat merupakan masalah penelitian. Tidak jarang, seseorang yang baru bangun dari tidurnya, dihadapkan pada suatu kesulitan secara intuisi, ataupun seseorang yang sedang buang air di kakus, dapat menghasilkan suatu masalah yang ingin dipecahkan, yang muncul secara tiba-tiba.

Cara Merumuskan Masalah

Setelah masalah diidentifikasikan dan dipilih, maka tibalah saatnya masalah tersebut dirumuskan. Perumusan masalah merupakan titik tolak bagi perumusan hipotesis nantinya, dan dari perumusan masalah dapat menghasilkan topik penelitian, atau judul dari penelitian. Umumnya rumusan masalah harus dilakukan dengan kondisi berikut:

  1. Masalah biasanya dirumuskan dalam bentuk pertanyaan.
  2. Rumusan hendaklah jelas dan padat.
  3. Rumusan masalah harus berisi implikasi adanya data untuk memecahkan masalah.
  4. Rumusan masalah harus merupakan dasar dalam membuat hipotesis.
  5. Masalah harus menjadi dasar bagi judul penelitian.

Misalnya, masalah yang dirumuskan adalah sebagai berikut.

“Apakah hasil padi ladang akan bertambah jika dipupuk dengan pupuk K?”

“Apakah ada hubungan antara konsumsi rumah tangga petani dengan pendapatan dan kekayaan petani?”

Dari rumusan masalah diatas, maka dapat dibuat judul penelitian sebagai berikut.

“Pemupukan padi ladang dengan pupuk K.”

“Hubungan antara konsumsi rumah tangga dengan pendapatan dan pendidikan petani Aceh.”

Perlu juga diperingatkan, bahwa dalam memilih masalah, perlu dihindarkan masalah serta rumusan masalah yang terlalu umum, terlalu sempit, terlalu bersifat lokal ataupun terlalu argumentatif. Variabel-variabel penting dalam rumusan masalah harus diperhatikan benar-benar.

Ada beberapa hal yang perlu diingat dalam merumusakan masalah. Masalah ilmiah tidak boleh merupakan pertanyaan-pertanyaan etika atau moral. Menanyakan hal-hal diatas adalah pertanyaan tentang nilai dan value judgement yang tidak bisa dijawab secara ilmiah. Misalnya, masalah yang dipilih adalah “Perlukah kepemimpinan organisasi secara demokrasi?” atau “Bagaimanakah sebaiknya mengajar mahasiswa di perguruan tinggi?” untuk menghindarkan hal tersebut diatas, maka janganlah menggunakan kata “mustikah” atau “lebih baik”, atau perkataan-perkataan lain yang menunjukkan preferensi. Ganti perkataan lebih baik dengan perkataan “lebih besar”, misalnya contoh lain “Apakah metode mengajar secara otorita menuju ke cara belajar yang buruk?” Pertanyaan ini bukanlah suatu masalah ilmiah. Belajar yang buruk adalah  value judgement. Mengajar secara otorita tidak dapat didefinisikan. Supaya tidak ada value judgement, maka sebaiknya “belajar yang buruk” dapat diganti dengan “mengurangi perilaku memecahkan soal”.

Hindarkan masalah yang merupakan metodologi. Pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan “metode sampling” atau “pengukuran” dan lain-lain, supaya jangan digunakan dalam memformulasikan masalah.

Sebagai kesimpulan, perlu dijelaskan bahwa ada dua jalan untuk memformulasikan masalah. Pertama, dengan menurunkan masalah dari teori yang telah ada, seperti masalah pada penelitian eksperimental. Cara lain adalah dari observasi langsung di lapangan, seperti yang sering dilakukan oleh ahli-ahli sosiologi. Jika masalah diperoleh di lapangan, maka sebaiknya juga menghubungkan masalah tersebut dengan teori-teori yang telah ada, sebelumnya masalah tersebut diformulasikan. Ini bukan berarti bahwa penelitian yang tidak didukung oleh suatu teori tidak berguna sama sekali. Karena, ada kalanya penelitian tersebut dapat menghasilkan dalil-dalil dan dapat membentuk sebuah teori.

Masalah sebenarnya adalah hal yang pertama dipikirkan oleh peneliti-peneliti ketika merencanakan proyek penelitiannya. Walaupun di atas kertas, yang pertama-tama muncul adalah judul dan pendahuluan, tetapi yang lebih dahulu timbul pada penelitian adalah masalah penelitian.

Membuat masalah penelitian merupakan hal yang sukar, antara lain karena:

  1. tidak semua masalah di lapangan dapat diuji secara empiris;
  2. tidak ada pengetahuan atau tidak diketahui sumber atau tempat mencari masalah-masalah;
  3. kadang kala si peneliti dihadapkan kepada banyak sekali masalah penelitian, dan sang peneliti tidak dapat memilih masalah mana yang lebih baik untuk dipecahkan;
  4. adakalanya masalah cukup menarik, tetapi data yang diperlukan untuk memecahkan masalah tersebut sukar diperoleh; serta
  5. peneliti tidak tahu kegunaan spesifik yang ada di kepalanya dalam memilih masalah.

Sesudah kita memformulasikan masalah, maka langkah selanjutnya adalah membangun tujuan penelitian. Tujuan penelitian adalah suatu pernyataan atau statement tentang apa yang ingin kita cari atau yang ingin kita tentukan. Kalau masalah penelitian dinyatakan dalam kalimat pertanyaan (bentuk interogatif), maka tujuan penelitian diberikan dalam kalimat pernyataan (bentuk deklaratif). Tujuan penelitian biasanya dimulai dengan kalimat:

“Untuk menentukan apakah …”, atau “mencari …”, dan sebagainya. Tujuan penelitian haruslah dinyatakan secara lebih spesifik dibandingkan dengan perumusan masalah. Jika masalah merupakan konsep yang masih abstrak, maka tujuan penelitian haruslah konstrak yang lebih konkrit.

5. Tujuan dan Manfaat Penelitian

Tujuan penelitian pada umumnya disesuaikan dengan keinginan dan kemauan dari peneliti atau pihak sponsor dari penelitian yang bersangkutan. Tujuan utama dari suatu penelitian terapan pada umumnya dapat dikelompokkan menjadi beberapa macam yaitu untuk:

  1. Mendapatkan informasi sebagai dasar untuk memberi saran atau rekomendasi kepada pihak-pihak tertentu (sponsor) di dalam pemecahan suatu masalah.
  2. Mendapatkan informasi yang lengkap dan dapat dipercaya terhadap permasalahan yang belum diketahui secara pasti baik oleh peneliti sendiri maupun oleh pihak sponsor.
  3. Memperjelas kebenaran suatu masalah yang sedang menjadi pusat perhatian baik bagi peneliti sendiri atau pihak sponsor.
  4. Berusaha memberi gambaran mengenai hasil yang diharapkan dari suatu pelaksanaan kebijaksanaan.

Untuk menjembatani tujuan yang ingin dicapai dan landasan teoritis pada umumnya dirumuskan hipotesis. Jadi hipotesis ini antara lain berfungsi untuk memberi pengarahan jalannya penelitian di dalam mencapai tujuan.

Tujuan yang ingin dicapai peneliti dan masalah utama yang menjadi perhatiannya dapat dilihat pada usulan proyeknya. Dalam usulan proyek ini harus diuraikan juga prosedur yang akan digunakan, misalnya sumber data, cara pengambilan contoh dan lain-lain. Satu hal yang perlu diperhatikan di dalam menentukan ruang lingkup tujuan penelitian, di samping keinginan peneliti dan keinginan pihak sponsor harus diperhatikan, jumlah tersedianya dana untuk itu harus dipikirkan pula.

Tujuan dari suatu penelitian sebaiknya jangan bermotifkan politik. Seperti telah diutarakan di muka, sebaiknya penelitian hanyalah berusaha mencari informasi yang benar-benar obyektif saja. Dari informasi itu beberapa pihak akan dapat menggunakannya sebagai dasar dalam menarik kesimpulan dan merumuskan berbagai macam kebijaksanaan.

Dari uraian di atas jelas bahwa usulan proyek benar-benar merupakan suatu langkah pendahuluan yang sangat menentukan di dalam suatu proses penelitian. Usulan proyek harus menyajikan permasalahan, hipotesis dan tujuan dari suatu penelitian. Akan lebih baik lagi bila usulan proyek itu mengandung langkah-langkah atau prosedur bagaimana cara mendekati permasalahan penelitian atau prosedur bagaimana cara mendekati permasalahan penelitian guna mencapai sasaran atau tujuan penelitian.

Prosedur atau cara pendekatan ini tidak kalah pentingnya dibanding dengan penentuan permasalahan, hipotesis dan tujuan penelitian, karena prosedur itu akan membimbing peneliti dalam melaksanakan kegiatan penelitian, mulai dari penyusunan daftar pertanyaan, pengumpulan data di lapangan serta analisis yang akan dipakai dalam proyek penelitian yang bersangkutan.

Lebih rinci lagi, usulan proyek itu dapat mencantumkan mengenai rencana biaya penelitian dan juga lamanya atau waktu yang diperlukan bagi penelitian itu, serta tahap-tahap kegiatan penelitian sesuai dengan lama waktu yang diperlukan. Untuk lebih lengkapnya, usulan proyek itu juga perlu mencantumkan nama-nama peneliti serta bidang keahliannya masing-masing, ditambah pula dengan fasilitas-fasilitas yang  dimiliki oleh lembaga pelaksana penelitian.

Menurut Hermawan Wasito

  • Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian merupakan arah pelaksanaan penelitian. Dalam tujuan penelitian diuraikan apa yang akan dicapai. Oleh karena itu, biasanya tujuan penelitian disesuaikan dengan kebutuhan peneliti dan pihak lain yang berhubungan dengan penelitian tersebut

  • Manfaat penelitian

Dalam uraian tentang kegunaan penelitian dijelaskan manfaat dan sumbangan yang akan diberikan sehubungan dengan penelitian tersebut. Uraian kegunaan penelitian ini menjadia dasar informasi untuk mengajukan saran dan rekomendasi kepada pihak lain yang ingin mengadakan penelitian lanjutan.

Tujuan penelitian mencakup informasi yang dimaksudkan untuk diperoleh guna menjawab permasalahan penelitian. Manfaat penelitian mencakup manfaat yang diharapkan akan diperoleh bila informasi yang dimaksudkan untuk menjawab permasalahan itu diperoleh.

16 responses to this post.

  1. Posted by matius on Februari 23, 2010 at 08:52

    ilmu yg harus segera di pelajari..

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: