Komponen permasalahan

Penelitian adalah usaha yang secara sadar diarahkan untuk mengetahui atau mempelajari fakta-fakta baru. Dapat pula penelitian diartikan sebagai penyaluran hasrat ingin tahu manusia. Hasrat ingin tahu inilah yang mendorong manusia untuk melakukan kegiatan penelitian. Jadi, mengadakan suatu penelitian adalah mempertanyakan sesuatu hal untuk mendapatkan jawabannya.

Berdasarkan atas tujuannya penelitian dapat dikelompokkan menjadi dua: a) penelitian yang deskriptif yaitu penelitian yang bertujuan untuk mendapatkan gambaran yang benar mengenai sesuatu obyek, dan b) penelitian yang bersifat analistis, yaitu penelitian yang bertujuan untuk menguji kebenaran dari suatu pendapat.

Tanpa suatu teori yang benar, maka seorang peneliti akan keliru dalam memilih alat analisis, melihat hubungan sebab akibat serta dalam mengumpulkan data. Penentuan variabel-variabel untuk analisis sangat tergantung pada daya khayal peneliti yang ditentukan oleh kemampuannya menguasai teori-teori yang ada.

Penelitian yang baik adalah penelitian yang dapat menghasilkan kesimpulan melalui prosedur yang sistematis dengan mempergunakan pembuktian-pembuktian yang cukup meyakinkan. Hasil penelitian itu tergantung pada pengalaman dan ketrampilan peneliti, tersedianya dana dan lamanya waktu penelitian. Sering suatu anggapan (hipotesis) disimpulkan dapat diterima hanya karena kurangnya data untuk menolaknya.

Sebelum melaksanakan penelitian harus disusun suatu usulan proyek. Usulan proyek adalah suatu usulan tentang rencana penelitian. Usulan ini memuat secara singkat tetapi jelas mengenai permasalahan dan latar belakang penelitian, tujuan penelitian, hipotesis, metode/cara memecahkan permasalahan, jenis dan sumber data, rencana pelaksanaan, pembiayaan, personalia dan lain-lain. Dengan membaca usulan proyek itu, pihak-pihak yang berkepentingan dengan proyek penelitian tersebut dapat mengerti dan paham akan persoalan yang dihadapi. Sebelum menyusun usulan proyek yang sesungguhnya biasanya dibuat terlebih dahulu usulan pokok-pokok penelitian yang ini sering disebut “baby project proposal” atau “terms of reference”. Terms of Reference (TOR) ini biasanya diusulkan oleh klien yaitu pemberi tugas penelitian ataupun oleh peneliti. Kalau TOR diterima, maka kemudian dikembangkan menjadi usulan proyek penelitian atau disebut pula project proposal.

Berdasarkan pengalaman penulis dalam membimbing skripsi dan melakukan penelitian, pada umumnya para calon peneliti bersifat sangat tergesa-gesa yaitu ingin terus saja mulai dengan pelaksanaan penelitian, pengumpulan data, analisis dan interpretasi tanpa memiliki usulan proyek yang baik.

Usulan proyek yang baik adalah usulan yang memiliki permasalahan yang jelas dan yang dapat diteliti, yang selanjutnya dapat dinyatakan dalam bentuk hipotesis sehingga jelas pula tujuan-tujuan yang akan dicapai oleh penelitian itu. Apabila semuanya ini jelas maka prosedur yang akan ditempuh pun dapat diuraikan dengan jelas pula.

Pengumpulan data, analisis dan interpretasi tanpa adanya usulan proyek yang baik dan tegas akan dapat berakibat sebagai berikut:

  1. Terjadi pemborosan baik dana, waktu dan tenaga yang dapat berakibat tidak selesainya penelitian.
  2. Kesimpulan terpaksa diambil atas dasar bukti yang kurang cukup.
  3. Lebih banyak dana dan waktu harus dikerahkan untuk menyelesaikan proyek ini, jika dana dan waktu itu tersedia.

Jadi tanpa usulan proyek yang baik maka nilai dari investasi yang berupa uang, tenaga dan waktu pada proyek penelitian itu akan rendah. Terdapat beberapa komponen dalam menyusun masalah penelitian

Pendahuluan dapat terdiri atas:

1.latar belakang

Latar belakang masalah merupakan uraian informasi sehubungan dengan timbulnya masalah penelitian. Informasi atau data mengenai timbulnya masalah penelitian tersebut perlu dicari untuk mengetahui kedudukan masalah dengan pasti. Apabila latar belakang masalah (informasi tentang seluk beluk masalah) dipelajari dengan baik, penelitian dapat dilangsungkan dengan lancar dan hasilnya pun akan berarti (significant).

Hampir dalam segala bidang kehidupan manusia dijumpai masalah. Masalah tersebut berbeda untuk masing-masing orang. Jenis masalah yang dihadapi pun beragam, ada yang besar, kecil, ada yang mendesak untuk dipecahkan, atau dapat ditangguhkan.

Masalah yang diuraikan tersebut merupakan masalah sehari-hari yang biasanya timbul karena adanya kesenjangan antara kenyataan dan harapan. Akan tetapi, tidak semua masalah tersebut merupakan objek penelitian. Masalah penelitian merupakan fokus perhatian yang mempunyai batas atau ruang lingkup tertentu. Pembatasan ini, membedakan masalah penelitian dengan masalah sehari-hari.

Ada beberapa sumber topik masalah, yaitu:

  1. Diri sendiri, dalam hal ini peneliti mencari masalah yang bersumber pada pengalaman atau pengamatannya sendiri yang berhubungan dengan bidang yang diteliti.
  2. Orang lain, dalam hal ini masalah diambil dari pengalaman atau pengetahuan orang lain, misalnya: ilmuwan atau praktisi.
  3. Sumber lain, misalnya: karya ilmiah atau penelitian bidang tertentu.

. Di dalam bidang sosial misalnya; pengaruh situasi perekonomian terhadap kenaikan kriminalitas; bagaimana menaikkan dukungan rakyat terhadap keputusan-keputusan/kebijaksanaan-kebijaksanaan pemerintah; sikap suatu suku terhadap suku lainnya; bagaimana adat istiadat suatu suku; bagaimana perbedaan antar suku dipandang dari tradisi mereka, kepercayaan mereka, sifat individu mereka; faktor-faktor penyebab kenakalan anak-anak; faktor-faktor penyebab kelesuan mahasiswa; faktor-faktor yang mempengaruhi umur perkawinan, dlsb.

Namun pada umumnya topik selalu dihubungkan dengan keperluan praktis dan teoritis. Banyaknya variasi dalam keperluan praktis akan menimbulkan banyaknya topik untuk keperluan riset. Sebagai contoh misalnya diperlukan informasi sebagai dasar untuk memutuskan apakah memang perlu diadakan fasilitas-fasilitas baru (pengangkutan umum, tempat hiburan umum, rencana kesejahteraan para pensiun, dlsb).

Dalam rencana pemerintah untuk menaikkan gaji pegawai negeri oleh pemerintah harus diketahui berapa sebenarnya pengeluaran minimum untuk keperluan kebutuhan hidup sehari-hari, berapa sebenarnya selisih antara penerimaan dan pengeluaran serta pengeluaran untuk apa yang menunjukkan proporsi tertinggi. Untuk keperluan ini pada tahun 1968, 1978 dan 1988 (sepuluh tahun sekali) Biro Pusat Statistik telah mengadakan survey biaya hidup di beberapa kota besar, misalnya Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, Palembang, Makasar, dlsb. Kemudian diadakan pembaruan (up dating) indek Harga Konsumen yang dipergunakan untuk mengukur tingkat inflasi.

Departemen pertanian misalnya mengadakan riset untuk mencari benih-benih/bibit-bibit padi unggul di dalam rangka untuk menaikkan produksi padi. Juga departemen-departemen atau lembaga-lembaga lainnya melakukan riset dengan berbagai topik atau judul untuk keperluan-keperluan praktis bagi departemen-departemen atau lembaga-lembaga yang bersangkutan. Beberapa perusahaan mengadakan riset pemasaran dalam rangka untuk meningkatkan hasil penjualan.

2. Identifikasi Masalah

Masalah yang harus dipecahkan atau dijawab melalui penelitian selalu ada tersedia dan cukup banyak, tinggallah si peneliti mengidentifikasikannya, memilihnya, dan merumuskannya. Walaupun demikian, agar seseorang ilmuwan mempunyai mata yang cukup jeli untuk menemukan masalah tersebut, dia harus cukup berlatih. Hal-hal yang dapat menjadi sumber masalah, terutama adalah:

(1)   Bacaan, terutama bacaan yang berisi laporan hasil penelitian,

(2)   Seminar, diskusi dan lain-lain pertemuan ilmiah,

(3)   Pertanyaan pemegang otoritas,

(4)   Pengamatan sepintas,

(5)   Pengalaman pribadi, dan

(6)   Perasaan intuitif.

(1)   Bacaan. Bacaan, terutama bacaan yang melaporkan hasil penelitian, mudah dijadikan sumber masalah penelitian, karena laporan penelitian yang baik tentu akan mencantumkan rekomendasi untuk penelitian lebih lanjut dengan arah tertentu. Hal yang demikian itu mudah dimengerti, karena tidak pernah ada penelitian yang tuntas. Kadang-kadang suatu penelitian menampilkan masalah lebih banyak daripada yang dijawabnya. Justru karena hal yang demikian itulah maka ilmu pengetahuan itu selalu mengalami kemajuan.

(2)   Diskusi, seminar, Pertemuan ilmiah. Diskusi, seminar, dan lain-lain pertemuan ilmiah juga merupakan sumber masalah penelitian yang cukup kaya, karena pada umumnya dalam pertemuan ilmiah demikian itu para peserta melihat hal-hal yang dipersoalkannya secara profesional. Dengan kemampuan profesional para ilmuwan peserta pertemuan ilmiah melihat, menganalisis, menyimpulkan dan mempersoalkan hal-hal yang dijadikan pokok pembicaraan. Dengan demikian mudah sekali muncul masalah-masalah yang memerlukan penggarapan melalui penelitian.

(3)   Pernyataan Pemegang Otoritas. Pernyataan pemegang otoritas, baik pemegang otoritas dalam pemerintahan maupun pemegang otoritas dalam bidang ilmu tertentu, dapat menjadi sumber masalah penelitian. Demikianlah misalnya pernyataan seorang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan mengenai rendahnya daya serap murid-murid SMA, atau pernyataan seorang Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi tentang kecilnya daya tampung perguruan tinggi, dapat secara langsung mengundang berbagai penelitian. Pernyataan ahli-ahli pendidikan dan ahli-ahli psikologi mengenai perlu dan tidaknya serta tepat dan tidaknya penjurusan di SMA seperti yang terjadi sekarang ini, dapat menjadi sumber masalah penelitian pula.

(4)   Pengamatan Sepintas. Seringkali terjadi, seseorang menemukan masalah penelitiannya dalam suatu perjalanan atau peninjauan. Ketika berangkat dari rumah sama sekali tidak ada rencana untuk mencari masalah penelitian. Tetapi ketika menyaksikan hal-hal tertentu di lapangan, timbullah pertanyaan-pertanyaan dalam hatinya, yang akhirnya terkristalisasikan dalam masalah penelitian. Seorang ahli ilmu tanah dapat menemukan masalahnya ketika ia menyaksikan keadaan tanah di suatu tempat, seorang ahli kesehatan dapat menemukan masalahnya ketia dia menyaksikan dari mana penduduk mendapatkan air minum, seorang ahli teknologi bahan makanan mungkin menemukan masalahnya ketika dia menyaksikan produksi jenis pangan tertentu yang berlebihan di suatu daerah, seorang ahli psikologi industri mungkin mendapatkan masalah ketika dia menyaksikan bagaimana sejumlah karyawan pabrik melaksanakan tugasnya, dan sebagainya.

(5)   Pengalaman pribadi. Pengalaman pribadi sering pula menjadi sumber bagi diketemukannya masalah penelitian. Lebih-lebih dalam ilmu-ilmu sosial, hal yang demikian itu sering terjadi. Mungkin pengalaman pribadi itu berkaitan dengan sejarah perkembangan dan kehidupan pribadi, mungkin pula berkaitan dengan kehidupan profesional.

(6)   Perasaan Intuitif. Tidak jarang terjadi, masalah penelitian itu muncul dalam pikiran ilmuwan pada pagi hari setelah bangun tidur, atau pada saat-saat habis istirahat. Rupanya selama tidur, atau istirahat itu terjadi semacam konsolidasi atau pengendapan berbagai informasi yang berkaitan dengan masalah yang akan diteliti itu, yang lalu muncul dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan atau masalah.

Adapun sumbernya, masalah penelitian itu hanya akan muncul atau dapat diidintifikasikan kalau calon peneliti cukup “berisi”. Orang yang masih “kosong”, yaitu yang miskin akan pengetahuan mengenai sesuatu cabang ilmu hampir tidak mungkin, atau sekurang-kurangnya sulit, untuk menemukan masalah penelitian.

3. Pembatasan Masalah

Orientasi dan fokus suatu proyek penelitian berfungsi mempersempit informasi dari yang luas dan beraneka ragam menjadi jumlah dan macam tertentu dalam batas jumlah dan macam yang layak untuk dikelola.

Keterangan dan ide-ide tambahan yang kurang perlu harus disisihkan dari permasalahan kita. Masing-masing bagian dari usulan proyek yaitu masalah, hipotesis dan tujuan. Berfungsi mempersempit atau menyaring usulan guna mempertajam fokus, dan mengeluarkan atau menyisihkan keterangan-keterangan extra atau keterangan yang tidak ada hubungannya dengan tujuan kita agar orientasi kita menjadi lebih tepat. Besar kecilnya penyaring kita itu tergantung pada tersedianya sumber daya yang ada. Jadi, usulan yang baik haruslah cocok atau sesuai dengan batasan sumber daya yang berupa dana, waktu dan tenaga.

4. Perumusan Masalah

Penentuan masalah atau memilih keadaan yang akan dipermasalahkan bagi penelitian adalah langkah yang pokok dan penting dalam proses penelitian, terutama penelitian terapan. Jadi permulaan dari proses penelitian itu sebenarnya adalah hal yang terpenting dan juga tersulit dalam proses tersebut. Seringkali baik klien maupun peneliti tidak mengetahui masalah apa yang diteliti. Namun melalui diskusi dan sama-sama mencari, dapatlah akhirnya diketemukan masalah penelitiannya.

Agar lebih mudah diketahui, masalah penelitian itu harus memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

-         Masalah penelitian harus mencerminkan kebutuhan yang dirasakan.

-         Masalah penelitian haruslah bukan hipotesis tetapi fakta, artinya harus tidak dapat diuji.

-         Masalah penelitian dapat menyarankan adanya hipotesis yang berarti dan harus dapat diuji.

-         Masalah penelitian harus relevan dan dapat dikuasai.

  1. Masalah penelitian harus mencerminkan kebutuhan yang dirasakan

Suatu masalah itu akan timbul bila ada kebutuhan yang dirasakan oleh klien atau sponsor. Klien ini bisa perseorangan, sekelompok orang atau suatu masyarakat, mungkin pemerintah atau perusahaan.

Kebutuhan itu harus dirasakan dalam arti bahwa klien percaya akan ada perubahan bila sesuatu dijalankan atas dasar hasil penelitian itu. Agar dapat menjadi masalah penelitian, maka kebutuhan itu harus tanggap terhadap perubahan tadi sebagai hasil dari informasi yang diberikan oleh proses penelitian. Ini berarti bahwa semua kebutuhan yang dirasakan tidak harus mempunyai hubungan fungsional, tetapi harus dimungkinkan bagi formulasi suatu permasalahan yang dapat diteliti.

  1. Masalah tidak boleh bersifat hipotesis

Suatu masalah atau “problem statement” yang akan diteliti haruslah berdasarkan pada suatu fakta, artinya ia benar-benar terjadi. Hubungan yang dinyatakan tidak boleh bersifat masih sementara dan masih disangsikan dalam pikiran peneliti. Peneliti harus menggunakan penilaian pribadi dengan keterangan-keterangan yang tersedia apakah suatu pernyataan itu sudah dapat diterima sebagai fakta atau hubungan yang sudah terjadi dalam masyarakat atau alam ini. Hubungan nyata yang diterima oleh klien maupun oleh peneliti yang dinyatakan dalam perumusan masalah itu tidak perlu diuji lagi kebenarannya. Jika suatu pernyataan tertentu tidak dapat diterima sebagai suatu fakta, maka apabila pernyataan itu ingin tetap dipertahankan ia hanya berkedudukan sebagai hipotesis saja.

Para peneliti dan klien belum tentu akan menerima keterangan yang sama sebagai suatu fakta dari hubungan yang nyata-nyata ada karena penilaian individu (perorangan) serta pengetahuan dan pengalamannya mempengaruhi keputusan mereka. Sebagai misal kita berikan contoh berikut.

Dalam membatasi masalah penelitian yang berhubungan dengan kekurangan produksi mentega, seorang peneliti karena pengalaman dan pengetahuannya yang umum, mungkin bersedia menerima pernyataan bahwa “tidak ada kekurangan peralatan produksi mentega di salah satu bagian produksi”. Bagi peneliti tersebut, pernyataan ini membentuk sebagian dari perumusan masalah. Tetapi bagi peneliti lain, pernyataan di atas mungkin masih disangsikannya dan kurang jelas, maka pernyataan tersebut baru merupakan hipotesis.

Perumusan masalah yang tajam akan dapat dikerjakan asal peneliti benar-benar mempunyai pengetahuan dalam bidangnya, yang ini dapat diperoleh dari bacaan-bacaan yang telah tersedia yang ada hubungannya dengan gambaran umum dari permasalahan yang ingin dipelajari. Inilah tahap pertama dalam proses penelitian yaitu mengadakan studi literatur (“literature review”).

Dalam “literature review” ini peneliti berusaha untuk memanfaatkan pengalaman orang lain guna membantunya dalam memasuki bidang yang akan dikajinya. Pengenalan secara mendalam terhadap bidang khusus itu atau dengan kata lain mengadakan orientasi dapat merubah fokus atau konsentrasi dari usaha penelitian dan dapat mempunyai pengaruh yang berarti terhadap efisiensi dari sumber daya yang tersedia bagi penelitian itu.

  1. Masalah harus menyarankan adanya hipotesis yang berarti dan yang dapat diuji.

Karena perumusan masalah bertindak sebagai pengenalan terhadap seluruh proses penelitian, ia harus menunjukkan hubungan hipotesis yang dapat diuji. Hipotesis dirumuskan sebagai penjelasan sebagian dari hubungan yang belum diketahui yang menimbulkan permasalahan. Hipotesis harus dikembangkan dari pernyataan masalah sedemikian rupa yang memungkinkan untuk adanya pemecahan. Kalau hipotesis yang ditimbulkan kurang menjawab kebutuhan yang sangat dirasakan, maka pernyataan masalahnya kurang tepat dinyatakan.

Misalnya: “konsumsi per kapita bahan makan yang rendah disebabkan oleh terlalu banyaknya penduduk”

Hipotesis ini mungkin dihasilkan dari permasalahan yang menyatakan “terdapat kelaparan di negara ini”

  1. Masalah harus Gayut (relevan) dan dapat dikelola

Ada dua masalah yang perlu dibedakan yaitu:

  1. Masalah yang hasilnya sudah dapat diramalkan tetapi hanya sedikit pengaruhnya terhadap masalah yang harus dipecahkan, dan
  2. Masalah yang terlalu luas sehingga repot dalam mengelolanya.

Untuk yang pertama, misalnya penelitian diadakan terhadap masalah yang sama, hanya ini di daerah lain. Sebenarnya penelitian yang seperti ini tidak perlu diadakan lagi karena keterangan-keterangan yang mirip sudah tersedia dan hasil penelitian yang baru juga kira-kira akan sama dengan hasil yang telah ada.

Kalau peneliti masih kurang pengalaman dan terlalu ambisius atau kurang pemikiran yang serius, maka masalah yang akan dibahas akan terlalu luas. Ini adalah masalah yang kedua tadi yang akhirnya penelitian itu sulit pengelolaannya.

Peneliti yang ambisius cenderung untuk meneliti semua masalah dari suatu sektor tertentu, sehingga ia akan mungkin menjawab semua pertanyaan yang timbul. Juga penelitian yang susah ditangani karena terlalu luas sering timbul karena klien atau sponsor memberikan saran-saran walaupun kurang memahami disiplin penelitian itu. Dalam hal ini peneliti seharusnya tidak menerima begitu saja semua saran, tetapi berusaha merumuskan masalah dan mempersempitnya dalam bentuk usulan proyek sampai ke derajat yang mampu untuk dikelola dalam hubungannya dengan waktu, tenaga dan dana yang tersedia bagi proyek penelitian itu. Suatu proyek yang tidak dapat dikelola dengan baik menghasilkan manfaat yang tidak banyak pula.

Setelah masalah diidentifikasi, dipilih, maka lalu perlu dirumuskan. Perumusan ini penting, karena hasilnya akan menjadi penuntun bagi langkah-langkah selanjutnya. Tidak ada aturan umum mengenai cara merumuskan masalah itu, namun dapat disarankan hal-hal berikut ini:

  1. masalah hendaklah dirumuskan dalam bentuk kalimat tanya,
  2. rumusan itu hendaklah padat dan jelas,
  3. rumusan itu hendaklah memberi petunjuk tentang mungkinnya mengumpulkan data guna menjawab pertanyaan-pertanyaan yang terkandung dalam rumusan itu.

Sebagai ilustrasi di bawah ini disajikan beberapa contoh.

  • Apakah mengajar dengan metode diskusi lebih berhasil daripada mengajar dengan metode ceramah?
  • Bagaimanakah hubungan antara IQ dengan prestasi belajar di perguruan tinggi?
  • Apakah mahasiswa yang tinggi nilai ujian masuknya juga tinggi indeks prestasi belajarnya?
  • Apakah mahasiswa wanita lebih konformistik daripada mahasiswa pria?
  • Apakah mahasiswa Fakultas Ekonomi yang berasal dari jurusan IPA berbeda prestasi belajarnya dari mereka yang berasal dari jurusan IPS?

Ada beberapa pedoman yang dapat digunakan dalam merumuskan masalah, yaitu:

  1. Masalah dirumuskan dengan kalimat tanya yang padat dan jelas;
  2. Rumusannya harus memberi petunjuk kemungkinan pengumpulan data yang dibutuhkan;
  3. Dalam rumusan masalah tersebut juga harus dicantumkan batasan masalah yang jelas; dan
  4. Rumusan masalah menunjukkan hubungan yang ada antara dua peubah (variabel) atau lebih.

Pedoman perumusan masalah di atas, perlu diperhatikan karena rumusan masalah menjadi salah satu dasar penyusunan hipotesis.

Contoh:

  • Apakah ada hubungan antara kelebihan produksi dengan perencanaan produksi PT “X” pada tahun 1985?
  • Apakah ada hubungan antara nilai indeks prestasi (IP) dengan jenis kelamin mahasiswa?
  • Apakah penyuluhan tentang cara pembuatan tambak mempengaruhi hasil ikan tambak di desa “Y”?

Setiap penelitian selalu diawali dengan adanya suatu permasalahan. Dengan pernyataan lain, penelitian tidak akan ada tanpa adanya permasalahan. Permasalahan penelitian yang baik dirumuskan dalam kalimat pertanyaan dan biasanya mencakup dua atau lebih variabel. Misalnya, apakah terdapat hubungan antara kepuasan dan kesetiaan konsumen produk X? Dalam hal ini, variabelnya adalah kepuasan dan kesetiaan terhadap produk X. Contoh lainnya adalah apakah terdapat perbedaan sikap masyarakat kota dan desa terhadap iklan produk Y? Dalam hal ini, variabelnya adalah domisili (kota dan desa) dan sikap terhadap iklan produk Y. Perumusan permasalahan dalam kalimat pertanyaan itu menunjukkan secara jelas bahwa permasalahan itu memerlukan jawaban atau penyelesaian dan informasi yang dibutuhkan sebagai jawabannya. Perlu diketahui bahwa permasalahan dapat mencakup hanya satu variabel.

Tiap kerja meneliti harus mempunyai masalah penelitian untuk dipecahkan. Perumusan masalah penelitian merupakan kerja yang bukan mudah, termasuk bagi peneliti-peneliti yang sudah berpengalaman. Padahal masalah selalu ada di sekeliling kita.

Masalah timbul karena adanya tantangan, adanya kesangsian ataupun kebingungan kita terhadap suatu hal atau fenomena, adanya kemenduaan arti (ambiguity), adanya halangan dan rintangan, adanya celah (gap) baik antarkegiatan atau antarfenomena, baik yang telah ada ataupun yang akan ada. Penelitian diharapkan dapat memecahkan masalah-masalah itu, atau sedikit-dikitnya menutup celah yang terjadi.

Pemecahan masalah yang dirumuskan dalam penelitian, sangat berguna untuk membersihkan kebingungan kita akan sesuatu hal, untuk memisahkan kemenduaan, untuk mengatasi rintangan ataupun untuk menutup celah antarkegiatan atau fenomena. Karenanya, peneliti harus dapat memilih suatu masalah bagi penelitiannya, dan merumuskannya untuk memperoleh jawaban terhadap masalah tersebut. Perumusan masalah merupakan hulu dari penelitian, dan merupakan langkah yang penting dan pekerjaan yang sulit dalam penelitian ilmiah.

Tujuan dari pemilihan serta perumusan masalah adalah untuk:

  • Mencari sesuatu dalam rangka pemuasan akademis seseorang:
  • Memuaskan perhatian serta keingintahuan seseorang akan hal-hal yang baru;
  • Meletakkan dasar untuk memecahkan beberapa penemuan penelitian sebelumnya ataupun dasar untuk penelitian selanjutnya;
  • Memenuhi keinginan sosial;
  • Menyediakan sesuatu yang bermanfaat.

Ciri-ciri masalah yang baik

Sebelum seorang peneliti dapat merumuskan suatu masalah untuk penelitiannya, maka ia lebih dahulu harus mengidentifikasikan dan memilih masalah itu. Walaupun masalah yang ada dan tersedia cukup banyak, tetapi cukup sulit bagi si peneliti untuk memilih masalah mana yang akan dipilihnya untuk penelitiannya. Si peneliti harus mencari masalah yang mempunyai ciri-ciri yang baik, dan si peneliti harus mengetahui sumber serta tempat mencari masalah tersebut.

Ada beberapa ciri-ciri masalah yang harus diperhatikan, baik dilihat dari segi isi (content) dari rumusan masalah, ataupun dari segi kondisi penunjang yang diperlukan dalam pemecahan masalah yang telah dipilih. Ciri-ciri dari masalah yang baik adalah sebagai berikut:

1)      Masalah yang dipilih harus mempunyai nilai penelitian.

2)      Masalah yang dipilih harus mempunyai fisibilitas.

3)      Masalah yang dipilih harus sesuai dengan kualifikasi si peneliti.

Masalah harus ada nilai penelitian

Masalah untuk suatu penelitian tidaklah dipilih seadanya saja. Masalah harus mempunyai isi yang mempunyai kegunaan tertentu serta dapat digunakan untuk suatu keperluan. Dalam memilih masalah, maka masalah akan mempunyai nilai penelitian jika hal-hal berikut diperhatikan

v     Masalah haruslah mempunyai keaslian.

Masalah yang dipilih haruslah mengenai hal-hal yang up to date dan baru. Hindarkan masalah yang sudah banyak sekali dirumuskan orang dan sifatnya sudah usang. Masalah harus mempunyai nilai ilmiah atau aplikasi ilmiah dan janganlah berisi hal-hal yang sepele untuk dijadikan suatu masalah yang akan dipilih untuk penelitian. Tentu sangat menggelikan jika masalah yang dipilih adalah: Apakah warna tahi Ir. Abdurrahman? Masalah yang kita formulasikan tersebut tidak signifikan sama sekali. Dari itu, satu syarat dari masalah yang dipilih adalah masalah haruslah mengenai pertanyaan-pertanyaan signifikan, dimana hal tersebut kurang memperoleh perhatian di masa lampau. Jika hal-hal yang lama ingin dibuat menjadi masalah ilmiah, maka ini dapat diperkenankan jika hal tersebut ingin dihubungkan dengan teknik, atau percobaan atau teori baru, sehingga topik-topik lama menjadi lebih dihargai.

v     Masalah harus menyatakan suatu hubungan.

Masalah harus menyatakan suatu hubungan antara dua atau lebih variabel. Sebagai konsekuensi dari hal di atas, maka rumusan masalah akan merupakan pertanyaan seperti: Apakah X berhubungan dengan Y? Bagaimana X dan Y berhubungan dengan C? Bagaimana A berhubungan dengan B di bawah kondisi C dan D? Masalah yang lebih nyata, misalnya: “Apakah konflik menambah atau mengurangi efisiensi organisasi?” Masalah harus padat, definitif dan dapat dinyatakan dalam beberapa hipotesis alternatif. Masalah dapat saja mengenai hubungan antara fenomena-fenomena alam, atau lebih khas lagi, mengenai kondisi-kondisi yang mengontrol fakta-fakta yang diamati. Selanjutnya, pemecahan masalah tersebut dapat dipergunakan sebagai dasar untuk mengetahui dan mengontrol fenomena-fenomena sedang diteliti.

v     Masalah harus merupakan hal yang penting.

Masalah yang dipilih harus mempunyai arti dan nilai, baik dalam bidang ilmunya sendiri maupun dalam bidang aplikasi untuk penelitian terapan. Bacon sendiri, misalnya, dalam memilih masalah tidak hanya untuk tujuan ilmiah saja, tetapi juga hal-hal yang mempunyai adaptasi hasil untuk fenomena-fenomena sosial. Masalah harus ditujukan lebih utama untuk memperoleh fakta serta kesimpulan dalam suatu bidang tertentu. Pemecahan masalah tersebut seyogianya dapat diterbitkan oleh jurnal ilmu pengetahuan dan digunakan sebagai referensi dalam buku-buku teks.

v     Masalah harus dapat diuji.

Masalah harus dapat diuji, dengan perlakuan-perlakuan serta data dan fasilitas yang ada. Sekurang-kurangnya, masalah yang dipilih harus sedemikian rupa sehingga memberikan implikasi untuk kemungkinan pengujian secara empiris. Suatu masalah yang tidak berisi implikasi untuk diuji hubungan-hubungan yang diformulasikan, bukanlah suatu masalah ilmiah. Hal yang terakhir ini memberikan implikasi bahwa bukan saja hubungan-hubungan harus dinyatakan secara jelas, tetapi juga harus mengandung pengertian bahwa hubungan-hubungan tersebut harus dinyatakan dalam variabel-variabel yang dapat diukur.

v     Masalah harus dinyatakan dalam bentuk pertanyaan.

Masalah harus dinyatakan secara jelas dan tidak membingungkan dalam bentuk pertayaan. Misalnya daripada mengatakan “Masalahnya adalah…,” maka nyatakan masalah dalam bentuk pertanyaan. Akan tetapi, perlu diingat, bahwa bukan semua pertanyaan walaupun begitu menarik, merupakan masalah atau pertanyaan ilmiah, karena masalah tersebut tidak dapat diuji. Misalnya pertanyaan: “Bagaimana kita tahu?” ataupun pertanyaan, “Apakah pendidikan memperbaiki pengajaran anak-anak?” Masalah tersebut sangat menarik, tetapi tidak dapat dipakai untuk suatu pengujian.

Masalah harus fisibel

Masalah yang dipilih harus mempunyai fisibelitas, yaitu masalah tersebut dapat dipecahkan. Ini berarti:

  1. Data serta metode untuk memecahkan masalah harus tersedia,
  2. Biaya untuk memecahkan masalah, secara relatif harus dalam batas-batas kemampuan,
  3. Waktu untuk memecahkan masalah harus wajar,
  4. Biaya dan hasil harus seimbang,
  5. Administrasi dan sponsor harus kuat,
  6. Tidak bertentangan dengan hukum dan adat.

Masalah fisibilitas dalam memilih masalah penelitian harus benar-benar diperhatikan oleh peneliti. Misalnya, dalam tesis S1 dari mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala, yang harus menyelesaikan studinya dalam waktu 4 tahun dengan 1 tahun waktu untuk penelitian, tidaklah mungkin untuk memilih masalah: “Apakah pemuliaan kelapa dengan perkawinan silang akan menambah hasil per hektar?” karena:

  • Pembiayaan yang cukup besar;
  • Waktu yang relatif terlalu lama;
  • Sponsor tidak ada dan kemampuan fakultas yang masih lemah;
  • Equipment untuk itu belum dipunyai fakultas.
  • Data serta metode harus tersedia.

Masalah yang dipilih harus mempunyai metode untuk memecahkannya dan harus ada data untuk menunjang pemecahan. Data untuk menunjang masalah harus pula mempunyai kebenaran yang standar, dan dapat diterangkan. Misalnya, jika masalah yang kita pilih berkenaan dengan jatuhnya kerajaan Romawi, maka masalah tersebut sukar dipecahkan karena kompleksnya masalah, dan terdapat kekaburan data tentang jatuhnya kerajaan Romawi. Karena terbatasnya data mengenai konsumsi beras serta pendapatan di Aceh, misalnya, maka tidak mungkin melihat apakah terdapat perubahan terhadap marginal propensity to consume dari beras di Aceh sejak tahun 1961 sampai dengan 1980? Karena keterbatasan ilmu seorang sarjana, maka relatif sukar menentukan berapa besar pengaruh adanya 7 industri besar terhadap under-employment di Aceh, karena metode mengukur pengaruh serta mengukur under-employment belum lagi dipelajari oleh peneliti lulusan S1.

  • Equipment dan kondisi harus mengizinkan.

Masalah yang dipilih harus sesuai dengan equipment dan alat yang tersedia. Walaupun equipment, tidak perlu yang muluk serta kompleks, tetapi equipment yang dipunyai haruslah dapat digunakan untuk memecahkan masalah. Masalah yang dipilih harus mempunyai equipment untuk kontrol kondisi ataupun untuk mencatat ketepatan.

Alat yang paling penting dalam memecahkan masalah adalah pikiran manusia itu sendiri (the mind of man). Banyak penemuan ahli-ahli tidak menggunakan equipment dan laboratorium yang komplit. Laboratorium Pasteur adalah kamar yang menyerupai gua. Goodyear menemukan vulkanisasi dalam dapurnya di New England, sedangkan Mozart menemukan sejak kuartet Magio Flute di rumah bola ketika sedang main bilyar. Dalam hal ini, yang menentukan pemilihan masalah adalah kondisi yang cukup mendukung untuk pemecahan masalah. Dengan suasana yang tenang, masalah serta penulisan Sejarah India telah dikerjakan oleh James Mill pada satu sudut meja, sedangkan di sudut yang lain duduk anaknya John Stuart Mill mempelajari bahasa Yunan. Descartes terpaksa meninggalkan masalah-masalah akibat banyak sekali teman-temannya yang selalu mengganggu. Von Braun baru sukses merumuskan masalah misi angkasa setelah ia hijrah ke Amerika Serikat.

  • Biaya untuk memecahkan masalah harus seimbang.

Biaya untuk pemecahan masalah harus selalu dipikirkan dalam memilih masalah. Jika pemecahan masalah di luar jangkauan biaya, maka masalah yang ingin dipilih tidak fisibel sama sekali. Mencocokan masalah dengan biaya merupakan seni serta keterampilan peneliti.

Masalah yang dipilih janganlah sekali-kali dikaitkan untuk kepentingan sendiri, dalam arti untuk memperoleh keuntungan pribadi. Tidak heran jika kita lihat bahwa Charles Goodyear yang menemukan vulkanisasi karet meninggal dunia dengan meninggalkan hutang sebesar 200 dollar Amerika, ataupun Le Blanc, ilmuwan Prancis yang menemukan cara memperoleh alkali secara murah meninggal dunia dalam rumah miskin di Prancis. Camkanlah kata Pasteur: “Saya tidak akan bekerja untuk uang, tetapi saya akan selalu bekerja untuk ilmu pengetahuan.” (I could never work for money, but I would always work for science).

  • Masalah harus didukung oleh sponsor yang kuat.

Masalah yang dipilih harus mempunyai sponsor serta administrasi yang kuat. Lebih-lebih lagi bagi penelitian mahasiswa, maka masalah yang dipilih harus diperkuat dengan adviser, pembimbing ataupun tenaga ahli yang sesuai dengan bidangnya. Dalam penelitian-penelitian besar, maka masalah yang dipilih harus didukung keuangannya oleh sponsor yang kuat. Charles Darwin, adalah bangsawan Inggris yang kaya, yang dapat mendukung pemilihan masalah dalam penelitiannya. Lavoiser, adalah seorang ilmuwan yang memperoleh pendapat setahun sampai √60,000 dan banyak menggunakan uang tersebut untuk penelitian.

  • Tidak bertentangan dengan hukum dan adat.

Masalah yang dipilih harus tidak bertentangan dengan adat-istiadat, hukum yang berlaku, maupun kebiasaan. Pilihlah masalah yang tidak akan menimbulkan kebencian orang lain. Janganlah memilih masalah yang dapat menimbulkan pertentangan baik fisik maupun itikad. Karenanya, masalah yang akan menimbulkan kesulitan, pertentangan, baik secara individu, ataupun kelompok, haruslah dihindarkan, demi menjaga kesinambungan profesionalisme dalam meneliti.

Masalah harus sesuai dengan kualifikasi peneliti

Masalah yang dipilih, selain mempunyai nilai ilmiah serta fisibel, juga harus sesuai dengan kualifikasi si peneliti sendiri. Dalam hal ini, masalah yang dapat dipilih sekurang-kurangnya:

  • Menarik bagi si peneliti

Masalah yang dipilih harus menarik bagi si peneliti sendiri dan cocok dengan bidang kemampuannya. Seorang ahli pertanian haruslah memilih judul mengenai pertanian. Tidaklah wajar, misalnya, seorang sarjana pertanian memilih masalah penelitiannya: apakah faktor-faktor penyebab penyakit lumpuh pada anak-anak? Ataupun seorang sarjana hukum memilih masalah yang berbunyi: apakah terdapat pengaruh pemangkasan kopi terhadap frekuensi berbuah? Masalah yang dipilih harus menarik keingintahuan si peneliti dan memberi harapan kepada peneliti untuk menemukan jawaban ataupun menemukan masalah lain yang lebih penting dan lebih menarik.

  • Masalah harus sesuai dengan kualifikasi.

Masalah yang dipilih harus sesuai dengan kualifikasi peneliti sendiri. Dengan perkataan lain, sukar mudahnya masalah yang ingin dipecahkan harus sesuai dengan derajat ilmiah yang dipunyai peneliti. Sudah terang, seorang peneliti yang mempunyai derajat ilmiah doktor akan memilih masalah penelitian yang berbeda dengan seorang insinyur ataupun sarjana hukum. Masalah yang dipilih harus sesuai dengan derajat daya nalar, sensitivitas terhadap data, serta kemampuan peneliti dalam menghasilkan orisinalitas.

Sumber untuk memperoleh masalah

Sebenarnya banyak sekali masalah yang perlu dipecahkan berada di sekeliling peneliti. Yang menjadi kendala untuk memperoleh masalah adalah kesanggupan peneliti menggali dan mengidentifikasikan masalah serta mengetahui sumber-sumber dimana masalah penelitian diperoleh dengan mudah. Sumber-sumber di mana masalah diperoleh antara lain sebagai berikut:

  1. Pengamatan terhadap kegiatan manusia.

Pengamatan sepintas terhadap kegiatan-kegiatan manusia dapat merupakan sumber dari masalah yang akan diteliti. Seorang ahli ilmu jiwa, dapat menemukan masalah ketika ia melihat tingkah laku pekerja pabrik melakukan kegiatan mereka dalam pabrik. Seorang ahli ekonomi pertanian dapat menemukan masalah ketika ia melihat cara petani bersahaja mengerjakan serta menyimpan hasil usaha pertaniannya. Seoarang dokter dapat menemukan masalah ketika melihat penduduk mengambil air minum di sungai dan buang air di kali, ataupun melihat banyak penduduk mempunyai kaki sebesar kaki gajah.

  1. Pengamatan terhadap alam sekeliling

Peneliti-peneliti ilmu natura seringkali memperoleh masalah dari alam sekelilingnya. Seorang ahli ilmu bintang banyak memperoleh masalah ketika ia mengamati cakrawala. Seorang peneliti ilmu tanah akan menemukan masalah ketika ia secara sepintas mengamati tanah di sekelilingnya ataupun dalam suatu perjalanan jauh. Seorang ahli penyakit tanaman ataupun ahli hama banyak menemukan masalah ketika mengamati tanaman. Seorang peneliti yang bangun pagi untuk melakukan kegiatan olah raga aerobik, tersandung kakinya dengan sebuah batu, dan batu tersebut menyentuh keingintahuannya, maka peneliti ahli batu-batuan tersebut telah menemukan masalah yang ingin diteliti.

  1. Bacaan.

Bacaan-bacaan dapat merupakan sumber dari masalah yang dipilih untuk diteliti. Lebih-lebih jika bacaan tersebut merupakan karya ilmiah ataupun makalah, maka banyak sekali rekomendasi di dalamnya yang memerlukan penelitian lebih lanjut. Bukan saja dari bacaan tersebut ditemukan masalah yang ingin mengungkapkan hubungan, tetapi bacaan dapat juga memberikan teknik dan metode yang ingin dikembangkan lebih lanjut. Membaca hasil-hasil penelitian terdahulu akan memberikan banyak sekali masalah-masalah yang belum sanggup dipecahkan. Hal ini merupakan masalah yang perlu dipecahkan dalam penelitian selanjutnya.

  1. Ulangan serta perluasan penelitian.

Masalah juga diperoleh dengan mengulang percobaan-percobaan yang pernah dilakukan, dimana percobaan yang telah dikerjakan tersebut belum memuaskan. Perluasan analisis maupun metode dan teknik dengan equipment yang lebih modern akan membuat masalah dapat dipecahkan secara lebih memuaskan. Misalnya, kerja Steinhauser telah menemukan minyak codliver untuk menyembuhkan penyakit criket di tahun 1840 belum dapat dijelaskan secara terperinci sampai dengan penelitian selanjutnya bertahun-tahun kemudian. Ataupun penemuan penisilin oleh Fleming di tahun 1929 telah terhenti beberapa lama, sampai kemudian Florey meneliti kembali sifat-sifat penisilin sebagai alat penyembuh penyakit.

  1. Cabang studi yang sedang dikembangkan

Kadangkala masalah ditemukan, bukan dari bidang studi itu sendiri, tetapi dari cabang yang timbul kemudian, yang mula-mula dipikirkan tidak berapa penting sifatnya. Misalnya, ketika Pasteur meneliti penyakit kolera dengan menyuntik ayam-ayam percobaannya dengan mikroba kolera, pada suatu hari ia kehabisan ayam-ayam sehat. Ia kemudian terpaksa menggunakan ayam-ayam yang pernah kena kolera. Dari percobaan ini ia tertarik akan ketahanan ayam-ayam tersebut, dan ia menemukan masalah yang mendorongnya meneliti tentang prinsip-prinsip kekebalan atau imunisasi. Ketika Wiliam Perkins mencoba mengubah aniline menjadi quinine dalam percobaannya, ia menemukan suatu masalah lain yang menghasilkan alat pencelup anniline yang ungu. Begitu juga ketika W.R. Whitney meneliti penggunaan ion air raksa sebagai sumber cahaya, ia menemukan fakta-fakta yang telah menggiring ia merumuskan masalah yang menghasilkan alternating current rectifier.

  1. Catatan dan Pengalaman pribadi

Catatan pribadi serta pengalaman pribadi sering merupakan sumber dari masalah penelitian. Dalam penelitian ilmu sosial, pengalaman serta catatan pribadi tentang sejarah sendiri, baik kegiatan pribadi ataupun kegiatan professional dapat merupakan sumber masalah untuk penelitian.

  1. Praktik serta keinginan masyarakat.

Praktik-praktik yang timbul dan keinginan-keinginan yang menonjol dalam masyarakat dapat merupakan sumber dari masalah. Praktik-praktik tersebut dalam merupakan tunjuk perasaan, pernyataan-pernyataan pemimpin, otorita ilmu pengetahuan baik bersifat lokal, daerah, maupun nasional. Adanya gejolak rasial, misalnya dapat merupakan sumber masalah. Adanya ketimpangan antara input dan produktifitas sekolah dapat merupakan suatu masalah penelitian. Ataupun ucapan ketua ISEI (Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia), ataupun Prof. Dr. Sumitro, dapat merupakan sumber masalah, karena otoritanya dalam ilmu pengetahuan.

  1. Bidang spesialisasi.

Bidang spesialisasi seseorang dapat merupakan sumber masalah. Seorang spesialis dalam bidangnya, telah menguasai ilmu yang dalam-dalam bidang spesialisasinya. Dari itu, akan banyak sekali masalah yang memerlukan pemecahan dalam bidang spesialisasi tersebut. Dalam membuat masalah berdasarkan bidang spesialisasi, perlu juga dijaga supaya masalah yang digali jangan menjurus kepada over-spesialisasi. Hal tersebut akan dapat menghilangkan unitas yang fundamental.

  1. Pelajaran yang sedang diikuti

Pelajaran yang sedang diikuti dapat merupakan sumber dari masalah penelitian. Diskusi kelas, hubungan antara dosen dengan mahasiswa banyak mempengaruhi mahasiswa dalam memilih masalah untuk penelitian. Pengaruh staf senior serta ajarannya dapat merupakan sumber masalah bagi mahasiswa yang ingin membuat thesis.

  1. Diskusi-diskusi ilmiah

Masalah penelitian dapat juga bersumber dari diskusi-diskusi ilmiah, seminar, serta pertemuan-pertemuan ilmiah. Dalam diskusi tersebut, seseorang dapat menangkap banyak analisis-analisis ilmiah, serta argumentasi-argumentasi professional, yang dapat menjurus pada suatu permasalahan baru.

  1. Perasaan Intuisi

Kadang kala, suatu perasaan intuisi dapat timbul tanpa disangka, dan kesulitan tersebut dapat merupakan masalah penelitian. Tidak jarang, seseorang yang baru bangun dari tidurnya, dihadapkan pada suatu kesulitan secara intuisi, ataupun seseorang yang sedang buang air di kakus, dapat menghasilkan suatu masalah yang ingin dipecahkan, yang muncul secara tiba-tiba.

Cara Merumuskan Masalah

Setelah masalah diidentifikasikan dan dipilih, maka tibalah saatnya masalah tersebut dirumuskan. Perumusan masalah merupakan titik tolak bagi perumusan hipotesis nantinya, dan dari perumusan masalah dapat menghasilkan topik penelitian, atau judul dari penelitian. Umumnya rumusan masalah harus dilakukan dengan kondisi berikut:

  1. Masalah biasanya dirumuskan dalam bentuk pertanyaan.
  2. Rumusan hendaklah jelas dan padat.
  3. Rumusan masalah harus berisi implikasi adanya data untuk memecahkan masalah.
  4. Rumusan masalah harus merupakan dasar dalam membuat hipotesis.
  5. Masalah harus menjadi dasar bagi judul penelitian.

Misalnya, masalah yang dirumuskan adalah sebagai berikut.

“Apakah hasil padi ladang akan bertambah jika dipupuk dengan pupuk K?”

“Apakah ada hubungan antara konsumsi rumah tangga petani dengan pendapatan dan kekayaan petani?”

Dari rumusan masalah diatas, maka dapat dibuat judul penelitian sebagai berikut.

“Pemupukan padi ladang dengan pupuk K.”

“Hubungan antara konsumsi rumah tangga dengan pendapatan dan pendidikan petani Aceh.”

Perlu juga diperingatkan, bahwa dalam memilih masalah, perlu dihindarkan masalah serta rumusan masalah yang terlalu umum, terlalu sempit, terlalu bersifat lokal ataupun terlalu argumentatif. Variabel-variabel penting dalam rumusan masalah harus diperhatikan benar-benar.

Ada beberapa hal yang perlu diingat dalam merumusakan masalah. Masalah ilmiah tidak boleh merupakan pertanyaan-pertanyaan etika atau moral. Menanyakan hal-hal diatas adalah pertanyaan tentang nilai dan value judgement yang tidak bisa dijawab secara ilmiah. Misalnya, masalah yang dipilih adalah “Perlukah kepemimpinan organisasi secara demokrasi?” atau “Bagaimanakah sebaiknya mengajar mahasiswa di perguruan tinggi?” untuk menghindarkan hal tersebut diatas, maka janganlah menggunakan kata “mustikah” atau “lebih baik”, atau perkataan-perkataan lain yang menunjukkan preferensi. Ganti perkataan lebih baik dengan perkataan “lebih besar”, misalnya contoh lain “Apakah metode mengajar secara otorita menuju ke cara belajar yang buruk?” Pertanyaan ini bukanlah suatu masalah ilmiah. Belajar yang buruk adalah  value judgement. Mengajar secara otorita tidak dapat didefinisikan. Supaya tidak ada value judgement, maka sebaiknya “belajar yang buruk” dapat diganti dengan “mengurangi perilaku memecahkan soal”.

Hindarkan masalah yang merupakan metodologi. Pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan “metode sampling” atau “pengukuran” dan lain-lain, supaya jangan digunakan dalam memformulasikan masalah.

Sebagai kesimpulan, perlu dijelaskan bahwa ada dua jalan untuk memformulasikan masalah. Pertama, dengan menurunkan masalah dari teori yang telah ada, seperti masalah pada penelitian eksperimental. Cara lain adalah dari observasi langsung di lapangan, seperti yang sering dilakukan oleh ahli-ahli sosiologi. Jika masalah diperoleh di lapangan, maka sebaiknya juga menghubungkan masalah tersebut dengan teori-teori yang telah ada, sebelumnya masalah tersebut diformulasikan. Ini bukan berarti bahwa penelitian yang tidak didukung oleh suatu teori tidak berguna sama sekali. Karena, ada kalanya penelitian tersebut dapat menghasilkan dalil-dalil dan dapat membentuk sebuah teori.

Masalah sebenarnya adalah hal yang pertama dipikirkan oleh peneliti-peneliti ketika merencanakan proyek penelitiannya. Walaupun di atas kertas, yang pertama-tama muncul adalah judul dan pendahuluan, tetapi yang lebih dahulu timbul pada penelitian adalah masalah penelitian.

Membuat masalah penelitian merupakan hal yang sukar, antara lain karena:

  1. tidak semua masalah di lapangan dapat diuji secara empiris;
  2. tidak ada pengetahuan atau tidak diketahui sumber atau tempat mencari masalah-masalah;
  3. kadang kala si peneliti dihadapkan kepada banyak sekali masalah penelitian, dan sang peneliti tidak dapat memilih masalah mana yang lebih baik untuk dipecahkan;
  4. adakalanya masalah cukup menarik, tetapi data yang diperlukan untuk memecahkan masalah tersebut sukar diperoleh; serta
  5. peneliti tidak tahu kegunaan spesifik yang ada di kepalanya dalam memilih masalah.

Sesudah kita memformulasikan masalah, maka langkah selanjutnya adalah membangun tujuan penelitian. Tujuan penelitian adalah suatu pernyataan atau statement tentang apa yang ingin kita cari atau yang ingin kita tentukan. Kalau masalah penelitian dinyatakan dalam kalimat pertanyaan (bentuk interogatif), maka tujuan penelitian diberikan dalam kalimat pernyataan (bentuk deklaratif). Tujuan penelitian biasanya dimulai dengan kalimat:

“Untuk menentukan apakah …”, atau “mencari …”, dan sebagainya. Tujuan penelitian haruslah dinyatakan secara lebih spesifik dibandingkan dengan perumusan masalah. Jika masalah merupakan konsep yang masih abstrak, maka tujuan penelitian haruslah konstrak yang lebih konkrit.

5. Tujuan dan Manfaat Penelitian

Tujuan penelitian pada umumnya disesuaikan dengan keinginan dan kemauan dari peneliti atau pihak sponsor dari penelitian yang bersangkutan. Tujuan utama dari suatu penelitian terapan pada umumnya dapat dikelompokkan menjadi beberapa macam yaitu untuk:

  1. Mendapatkan informasi sebagai dasar untuk memberi saran atau rekomendasi kepada pihak-pihak tertentu (sponsor) di dalam pemecahan suatu masalah.
  2. Mendapatkan informasi yang lengkap dan dapat dipercaya terhadap permasalahan yang belum diketahui secara pasti baik oleh peneliti sendiri maupun oleh pihak sponsor.
  3. Memperjelas kebenaran suatu masalah yang sedang menjadi pusat perhatian baik bagi peneliti sendiri atau pihak sponsor.
  4. Berusaha memberi gambaran mengenai hasil yang diharapkan dari suatu pelaksanaan kebijaksanaan.

Untuk menjembatani tujuan yang ingin dicapai dan landasan teoritis pada umumnya dirumuskan hipotesis. Jadi hipotesis ini antara lain berfungsi untuk memberi pengarahan jalannya penelitian di dalam mencapai tujuan.

Tujuan yang ingin dicapai peneliti dan masalah utama yang menjadi perhatiannya dapat dilihat pada usulan proyeknya. Dalam usulan proyek ini harus diuraikan juga prosedur yang akan digunakan, misalnya sumber data, cara pengambilan contoh dan lain-lain. Satu hal yang perlu diperhatikan di dalam menentukan ruang lingkup tujuan penelitian, di samping keinginan peneliti dan keinginan pihak sponsor harus diperhatikan, jumlah tersedianya dana untuk itu harus dipikirkan pula.

Tujuan dari suatu penelitian sebaiknya jangan bermotifkan politik. Seperti telah diutarakan di muka, sebaiknya penelitian hanyalah berusaha mencari informasi yang benar-benar obyektif saja. Dari informasi itu beberapa pihak akan dapat menggunakannya sebagai dasar dalam menarik kesimpulan dan merumuskan berbagai macam kebijaksanaan.

Dari uraian di atas jelas bahwa usulan proyek benar-benar merupakan suatu langkah pendahuluan yang sangat menentukan di dalam suatu proses penelitian. Usulan proyek harus menyajikan permasalahan, hipotesis dan tujuan dari suatu penelitian. Akan lebih baik lagi bila usulan proyek itu mengandung langkah-langkah atau prosedur bagaimana cara mendekati permasalahan penelitian atau prosedur bagaimana cara mendekati permasalahan penelitian guna mencapai sasaran atau tujuan penelitian.

Prosedur atau cara pendekatan ini tidak kalah pentingnya dibanding dengan penentuan permasalahan, hipotesis dan tujuan penelitian, karena prosedur itu akan membimbing peneliti dalam melaksanakan kegiatan penelitian, mulai dari penyusunan daftar pertanyaan, pengumpulan data di lapangan serta analisis yang akan dipakai dalam proyek penelitian yang bersangkutan.

Lebih rinci lagi, usulan proyek itu dapat mencantumkan mengenai rencana biaya penelitian dan juga lamanya atau waktu yang diperlukan bagi penelitian itu, serta tahap-tahap kegiatan penelitian sesuai dengan lama waktu yang diperlukan. Untuk lebih lengkapnya, usulan proyek itu juga perlu mencantumkan nama-nama peneliti serta bidang keahliannya masing-masing, ditambah pula dengan fasilitas-fasilitas yang  dimiliki oleh lembaga pelaksana penelitian.

Menurut Hermawan Wasito

  • Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian merupakan arah pelaksanaan penelitian. Dalam tujuan penelitian diuraikan apa yang akan dicapai. Oleh karena itu, biasanya tujuan penelitian disesuaikan dengan kebutuhan peneliti dan pihak lain yang berhubungan dengan penelitian tersebut

  • Manfaat penelitian

Dalam uraian tentang kegunaan penelitian dijelaskan manfaat dan sumbangan yang akan diberikan sehubungan dengan penelitian tersebut. Uraian kegunaan penelitian ini menjadia dasar informasi untuk mengajukan saran dan rekomendasi kepada pihak lain yang ingin mengadakan penelitian lanjutan.

Tujuan penelitian mencakup informasi yang dimaksudkan untuk diperoleh guna menjawab permasalahan penelitian. Manfaat penelitian mencakup manfaat yang diharapkan akan diperoleh bila informasi yang dimaksudkan untuk menjawab permasalahan itu diperoleh.

“Urgensi Kuliah Kewirausahaan Bagi PT

Sedangkan urgensi pengembangan kewirausahaan di Perguruan Tinggi  di wujudkan dengan penyediaan sejumlah anggaran kompetitif untuk enam jenis kegiatan pengembangan budaya kewirausahaan yang meliputi :

  1. Kuliah kewirausahaan, merupakan inisiasi pertumbuhan dan pemahaman jiwa kewirausahaan
  2. Kegiatan Magang Kewirausahaan (KMU), mahasiswa dapat mempelajari wirausaha secara nyata di lapangan.
  3. Kuliah Kerja Usaha (KKU), dilaksanakan untuk mendalami kewirausahaan sambil membantu mitra pengusaha
  4. Kegiatan Karya Alternatif Mahasiswa (KAM), sekelompok mahasiswa didorong untuk menghasilkan perangkat atau barang produksi (baik perangkat keras maupun perangkat lunak, barang dan jasa) yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat dan bernilai komersial.
  5. Kegiatan Konsultasi Bisnis dan Penempatan Kerja (KBPK), dilaksanakan untuk membantu masyarakat pengusaha kecil dan menenga, wirausahawan dan alumni dalam berwirausaha dan memperoleh akses pasar serta modal.
  6. Kegiatan Inkubator Wiarusaha Baru (INWUB), merupakan ajang pembentukan akhir jiwa kewirausahaan para mahasiswa dan lulusan baru, sebelum terjun ke dalam dunia nyata wirausaha sebagai wirausahawan mandiri.

Abstrak Penelitian

Pengaruh Komitmen organisasi terhadap Keinginan Berpindah Karyawan ” X”

ABSTRACT

This research is intended to determine which  teaching methods is liked  by the students and their perceptions what teaching methods have  significant,  effect their exzamination

Tthe six lecture  method,  usually  are (1) preaching method,(2) discussion, (3) Demonstration, (4) Preaching the answer questions and duty, (5) preaching plus discussion and duty, (6) preaching plus demonstration and drill. analyzed by using comparision analysis between averages by using analisis of variace (ANOVA) one way classificatiohn and so analyzis to six teaching method have significally with value students in Faculty of Economics Tarumanagara University by using from the F Test. It’s required the significant result which six teaching method than evaluation students.

The result of this research need to obtain attention from lecturers for use the right teaching method.

Keyword:

The teaching methods, analysis of variance, student value

i

abstrak penelitian

ABTRACT

Dimensi-Dimensi Citra toko Yang Mempengaruhi Pelanggan Matahari Departemen Store di Jakarta

The objective of this research is to find out the response of customers about  store image and the dominant demension, which can make effect the customers to choice Matahari Department Store retail.

The instrument used in collecting the data were questionnaires which are distributed to 300 customers  as sample in 10 locations.

By using mean  and factor analysis with SPSS program version 12 , this research reveald that they agree with the about demensions of store image. There are 7 dominant variables of store image dimensions which give on effect  to customers to choice Matahari Depatment Store retail.

The result of this research need to obtain attention from related stakeholders because in general customers require a condusive and good store image , that can effect them  to came again to the  retail store.

Keyword:  Store Image, Demensions Store Image , factor Analysis .


Tipe-Tipe Pedagang Besar

TIPE-TIPE PERDAGANGAN BESAR
Pedagang besar dikelompokkan ke dalam tiga kelompok utama, yaitu pedagang besar perdagangan, pialang dan agen, serta cabang dan kantor pabrikan.
a. Pedagang besar perdagangan adalah kelompok tunggal terbesar pedagang besar yang menyumbang sekitar 50 persen dari semua perdagangan besar, terdiri dari:
1. Pedagang besar layanan penuh
 Pedagang Besar Umum : membawa bermacam-macam barang daganagn luar negeridan melaksanakan semua fungsi saluran. Tipe pedagang ini lazimnya ditemukan dalam industri perangkat keras, obat-obatan, dan pakaian.
 Pedagang Besar Khusus : menawarkan suatu jajaran produk yang cukup sempit tetapi mempunyai bermacam-macam/sortiran yang luas di dalam lini produk. Mereka melaksanakan semua fungsi salurandan biasanya ditemukan dibidang kesehatan makanan, suku cadang otomotif, dan industri makanan laut.
2. Pedagang besar layanan terbatas
 Pedagang besar bayar dan bawa pulang
 Pedagang besar dengan truk
 Pedagang besar pengirim dalam transit
 Pedagang besar pengisi rak
 Koperasi produsen
 Pedagang besar pesanan via surat
b. Pialang adalah pedagang besar yang tidak mengambil alih hak atas barang dan fungsinya adalah mempertemukan pembeli dan penjual dan membantu negosiasi. Sedangkan agen adalah pedagang besar yang mewakili pembeli atau penjual berdasarkan tarif yang relatif permanen, melakukan hanya beberapa fungsi dan tidak mengambil alih atas hak barang.
 Agen pabrikan
 Agen penjualan
 Agen pambelian
 Pedagang komisi
c. Cabang dan kantor pabrikan dan pengecer adalah penjualan perdagangan besar oleh penjual atau pembeli sendiri bukannya melalui pedagang besar independen.
 Cabang dan kantor penjualan
 Kanor pembelian
KEPUTUSAN PEMASARAN PEDAGANG BESAR
• Keputusan Pasar Sasaran dan Positioning
Seperti pengecer, pedagang besar harus mendefinisikan pasar sasaran mereka dan posisi mereka sendiri secara efektif. Mereka dapat memilih kelompok sasaran berdasarkan ukuran pelanggan (hanya pengecer besar), berdasarkan jenis pelanggan (hanya toko makanan sehari-hari), berdasarkan kebutuhan akan layanan (para pelanggan yang membutuhkan kredit), atau factor-faktor lain. Pedagang besar dapat mengidentifikasi pelanggan yang lebih menguntungkan, mendesain tawaran yang lebih kuat, dan membangun hubungan yang lebih baik kepada pelanggan. Pedagang besar dapat mengusulkan sisitem pemesanan ulang otomatis, membentuk sistem pelatihan dan konsultasi manajemen, atau bahkan mensponsori rantai sukarela. Mereka dapat menghambat para pelanggan yang kurang menguntungkan dengan mensyaratkan pesanan yang lebih besar atau menambahkan biaya layanan atas pesanan kecil.

• Keputusan Bauran Pemasaran
Seperti pengecer, pedagang besar juga harus memutuskan pilihan produk dan layanan, harga, promosi, serta tempat. “Produk” pedagang besar adalah pilihan produk dan jasa yang ia tawarkan. Harga juga merupakan keputusan pedagang besar yang penting. Pedagang besar biasanya mengambil mark-up atas biaya pokok penjualan dengan presentase standar.
Promosi juga merupakan hal yang penting bagi kesuksesan pedagang besar, kebanyakan pedagang besar tidaklah sadar-promosi. Mereka menggunakan pemasangan iklan perdagangan, promosi penjualan, penjulan pribadi, dan hubungan masayarakat kebanyakan secara acak-acakan dan tidak terencana. Mereka seharusnya menyusun strategi promosi yang menyeluruh dan memanfaatkan lebih banyak program dan materi promosi pemasok sehingga program promosi mereka dapat berjalan sesuai rencana. Akhirnya,
tempat juga penting karena pedagang harus memilih lokasi dan fasilitas mereka secara seksama. Pedagang besar biasanya bertempat di wilayah dengan sewa dan tarif pajak yang rendah, dan cenderung menginvestasikan sedikit uang dalam bangunan, peralatan, dan sistem mereka. Sebagai akibatnya, penanganan bahan bakudan sistem pemrosesan pesanan sering ketinggalan jaman. Namun, pedagang besar modern mengadaptasikan layanan mereka terhadap kebutuhan pelanggan sasaran dan mancari metode pengurangan biaya penyelenggaraan kegiatan bisnis.
TREN PENJUALAN PERDAGANGAN BESAR
Ketika industri perdagangan besar yang berkembang pesat bergerak menuju abad ke-21, industri itu menghadapi banyak tantangan. Industri itu tetap rapuh terhadap tren yang paling bertahan lama di daluwarsa 1990-an. Pedagang besar yang progresif secara terus-menerus mencari cara yang lebih baik untuk memenuhi kebutuhan pemasok dan pelanggan sasaran mereka yang terus bertambah. Mereka menyadari bahwa, dalam jangka panjang satu-satunya alasan untuk tetap bertahan hidup adalah penambahan nilai dengan meningkatkan efisiensi dan efektifitas saluran pemasaran secara keseluruhan. Untuk mencapai sasaran itu, mereka harus terus-menerus meningkatkan layanan dan mengurangi biaya.
Ekspansi geografis akan mensyaratkan bahwa distributor mempelajari cara bersaing secara efektif di wilayah yang lebih luas dan beragam. Pedagang besar yang bertahan hidup akan tumbuh lebih besar, terutama melalui akuisisi, merger, dan ekspansi geografis. Tren menuju integrasi vertikal itu, di mana pabrikan berusaha mengendalikan pangsa pasar dengan memiliki perantara pemasaran yang menjual barang mereka ke pasar tetap kuat
Pedagang besar akan terus meningkatkan layanan yang mereka berikan kepada para pengecer (penetapan harga eceran), pemasangan iklan koperasi, laporan informasi pemasaran dan manajemen, layanan akuntan, transaksi online, dan lain-lain. Pedagang besar yang tidak menemukan cara-cara yang efisien untuk menyampaikan nilai kepada pelanggannya akan segera tersingkir. Namun peningkatan penggunaan sistem komputer, otomatisasi, dan internet akan membantu padagang besar menahan biaya pemesanan, pengiriman, dan pemeliharan inventori, yang meningkatkan secara tajam produktivitas mereka.

DAFTAR PUSTAKA
Kotler, Philip dan Gary Armstrong. 2004. Dasar-dasar Pemasaran. Jakarta : PT. Indeks.
Berkowitz, Erick. N et al. 1989. Marketing. Boston : Irwin.

pengenalan ritel

BAB 1

KONSEP DASAR  RETAILING.

Retailing adalah bagian dari kehidupan kita sehari-hari yang selalu kita lakukan dimana kita mengambil keuntungan/ kebutuhan kita.

Aktivitas rtel melibatkan hubungan antara produsen, pedagang besar serta konsumen. Konsumen merupakan ujung tombak keberhasilan bisnis ritel, melalui daya beli konsumen adalah modal dasar bagi ritel dalam mendapat keuntungan.Oleh karenyanya Management retail haruslah dapat menentukan keputusan dalam menyeleksi target pasar, penempatan toko, menentukan  merchandise apa yang akan dijual dan jasa yang diajukan, serta harus bisa bernegosiasi dengan supplier dan menentukan harganya, promosinya serta display merchandise-nya.

Bisnis ritel dapat dikelompokkan pada ciri-ciri tertentu yaitu:

1.Discount Stores. Toko diskon.
Discount Store atau toko diskon adalah toko pengrecer yang menjual berbagai harga yang murah dan memberikan pelayanan yang minimum. Contohnya adalah ,Makro dan Alfa.

2.Speciality Stores/ Toko produk Spesifik.

Toko produk spesifik adalah merupakan toko eceran yang menjual barang –barang jenis lini produk tertentu saja yang bersifat spesific. Contoh specialituy store adalah toko buku , toko music , toko obat dan banyak lagi.

    3.Depatement Stores.

Adalah suatu toko eceran yang berskala besar yang pengelolaannnya dipisah dan dibagi menjadi bagian departemen-departement yang menjual macam barang yang berbeda-beda. Contohnya seperti Ramayana, robinson, rimo dan sebagainya .

    4.Convinience Stores.

Adalah toko pengecer yang menjual jenis item produk yang terbatas, bertempat di tempat yang nyaman dan jam buka panjang. Contoh minimarket alfa dan indomaret.

    5.Catalog Stores.

Adalah suatu jenis toko yang memberikan banyak informasi produk melalui media catalog yang dibagikan kpeada para konsumen potensial. Toko catalog biasanya memiliki jumlah persediaan barang yang banyak.

    6.Chain Stores.

Chain stores adalah toko pengecer yang mimiliki lebih dari satu gerai dan dimiliki oelh perusahaan yang sama.

    7.Supermarket.

Supermarket adalah toko eceran yang menjual lebih dari satu gerai dan dimiliki oleh perusahaan yang sama .

    8.Hypermarket.

Adalah toko eceran yang menjual jenis barang dalam jumlah yang sangat banyak atau lebih dari 50.000 item dan melingkupi banyak jenis produk. Hipermarket adalah gabungan antara retailer toko diskon dengan hipermarket. Contohnya anatara lain hipermarket giant, hipermarket hypermart dan hypermarket carrefour.

Konsumen adalah seseorang yang sangat menentukan besarnya profit yang akan diperoleh oleh sebuah perusahaan, melalui keputusan-keputusan membeli produk barang atau produk jasa yang ditawarkan. Dengan demikian, motivasi konsumen dan keputusan mereka untuk berbelanja benar-benar menetukan kelangsungan hidup suatu usaha atau bisnis.

Dahulu konsumen membelanjakan uangnya hanya untuk mendapatka produk semata, baik produk barang ataupun jasa. Namun saat ini, konsumen telah mulai beralih kepada apa yang dikenal dengan ’service’ atau pelayanan. Masalah waktu belanja yang terbatas, terutama dikota-kota dan meningkatnay jumlah wanita bekerja, dan anggaran belanja yang ketat seiring dengan menurunnya daya beli, telah membuat konsumen benar-benar harus dapat membelanjakan uangnya secara tepat.

Terdapat dua alasan utama yang mengharuskan para pengecer untuk mulai merubah cara mereka menjalankan bisnisnya, yaitu:

1. Alasan pertama adalah perubahan pola belanja dan tingkah laku belanja seperti yang  telah dikemukakan di atas.

2. Alasan ke dua adalah munculnya persaingan yang sangat ketat diantara para pemain di bisnis ini. Pengecer harus mencari, menerima dan menerapkan ide-ide atau cara-cara baru yang dapat membuatnya selangkah lebih maju dibandingkan kompetitornya

Menurut  Rosenberg, Iris. S (1988: 02-10)

Menyimak dari pengertian Retailing ,adalah bisnis yang menjual produk dan jasa pada konsumen untuk kebutuhan pribadi atau keluarga. Retail juga merupakan bisnis terakhir dalam jalur distribusi yang menghubungkan manufactur dengan konsumen.

Manufaktur membuat produk dan menjualkannya pada retailer atau semua pedagang. Pedagang membeli produk dari menufaktur dan menjual kembali produk tersebut untuk para pengecer (rertailer). Saat pengecer menjual produknya lagi kepada konsumen, pedagang dan pengecer menampilkan kesamaan fungsi dalam memenuhi kebutuhan dan memuaskan konsumen akhir.

Melalui Jalur Distribusi:

Manufaktur→ Pedagang → Pengecer→ Konsumen.

Pengecer mengatasi aktivitas bisnis dengan menampilkan fungsi yang meningkatkan nilai dari produk dan jasa yang dijualnya pada konsumen, yang memiliki beberapa fungsi yaitu:

  • menyediakan pilihan Produk dan Jasa.
  • Pejualan besar-besaran.
  • Terbatasnya persediaan.
  • Menyediakan jasa

    Keterangan, sebagai berikut:

    1. Menyediakan pemilihan Produk dan Jasa.

    Manufaktur secara khusus memproduksi tipe tertentu dari sebuah produk.

    Contoh: Cambell membuat soup, Kraft membuat produk sehari-hari, Kell agg membuat perusahaan sereal dan sebagainya. Jika tiap manufaktur ini mempunyai tokonya masing-masing yang hanya menjual produk mereka saja, maka akan menyulitkan konsumen dari segi pemikiran akan kebutuhan produk lain. Maka dengan adanya pengecer, kita bisa pergi ke berbagai macam toko apapun yang banyak pilihannya.

    1. Penjualan besar-besaran.

    Untuk mendaur biaya transportasi, manufaktur dan pedagang nantinya akan memindahkan produk di kuantitas terkecil untuk konsumen individual dan rumah penampungan pola konsumsi.

    1. Persediaan terbatas.

    Bagian fungsi dari pengecer adalah utnuk menjaga persediaan sehingga produk selalu tersedia ketika konsumen menginginkannya. Konsumen dapat menyimpan lebih sedikit persediaan produk dirumah, karena mereka tahu bahwa retail mempunyai produk yang tersedia ketika mereka menginginkan lebih.

    1. Menyediakan Jasa.

    Pengecer menyediakan jasa yang dapat memudahkan bagi pelanggan untuk membeli dan menggunakan produk itu. Mereka menyediakan bentuk kredit bagi konsumen, jadi konsumen dapat memiliki produknya kapan saja dan bisa membayarnya kemudian. Lalu mereka pun memajang produknya, jadi konsumen dapat melihat serta mencobanya sebelum melakukan transaksi pembelian.

    Menurutnya dalam bukunya “The Structure of Scientific Revolution”, kita sebenarnya dikuasai atau diperintah oleh paradigma atau pola pikir masing-masing. Hal inilah yang membuat seseorang tidak dapat menerima segala sesuatu yang baru. Paradigma adalah sebuah pola atau model yang merupakan sekumpulan kebiasaan dan aturan yang ada dalam kehidupan seseorang.

    Paradigma merupakan hasil dari aturan-aturan, norma-norma, kebiasaan-kebiasaan, dan paham-paham yang telah tertanam kuat pada diri seseorang.

    Dengan demikian, suatu paradigma dapat mengakibatkan hal-hal serius seperti

    1. membutakan pebisnis terhadap kesempatan-kesempatan baru
    2. menghalangi seseorang untuk membuat keputusan yang kreatif dan inovatif
    3. mengaburkan kita terhadap strategi-strategi efektif yang dilakukan oleh manajemen
    4. membuat seseorang mengabaikan pasar-pasar baru.

    Ia mengemukakan bahwa paradigma bertindak sebagai sebuah filter yang menyaring data atau informasi yang masuk ke pikiran atau otak kita. Hanya data atau informasi yang sesuai dengan paradigma kita yang dapat masuk dengan mudah.

    Ke arah mana bisnis eceran berjalan saat ini ? Melihat kembali ke awal tulisan ini, bisnis eceran di Indonesia telah dan sedang digiring kepada suatu ide baru yang dikenal dengan istilah ‘customer driven’ untuk menanggapi adanya pola belanja dan tingkah laku belanja konsumen yang telah berubah.

    ‘Customer driven’ adalah mengorientasikan atau mengarahkan bisnisnya sesuai dengan keinginan dan kemauan konsumen, bukan keinginan dan kemauan pebisnis. Dengan filosofi ‘customer driven’, pengecer harus mendasarkan semua keputusan bisnisnya kepada pelayanan untuk konsumen dan untuk kepuasan konsumen. Setiap orang dalam organisasi tersebut harus menyadari sepenuhnya bahwa melayani konsumen merupakan bisnis mereka satu-satunya.

    Banyak perusahaan telah merubah ‘apa yang mereka katakan’, bukan ‘apa yang mereka lakukan ‘ untuk konsumen. Performa suatu bisnis eceran bukan dinilai dari siapa dan dimana mereka berada, melainkan berdasarkan apa yang mereka lakukan dan bagaimana mereka melakukannya untuk kepuasan konsumen.

    Apakah anda siap mengikuti perubahan dan tetap menjadi pemimpin dalam bisnis anda ? Tak ada jawaban lain selain “YA”. Maka rubahlah paradigma anda dan anda pasti menjadi pemenang.

    Maraknya ekspansi bisnis eceran modern (retail) seperti supermarket atau minimarket yang mengancam sektor eceran tradisional, lebih disebabkan karena tidak jelasnya pelaksanaan aturan mengenai penataan zona tempat usaha sektor eceran modern. Ekspansi bisnis eceran modern bukan disebabkan adanya pelaku usaha yang melakukan persaingan usaha yang tidak sehat.

    Dikatakan, pendapat atau isu yang menyatakan usaha eceran modern mengancam sektor usaha tradisional seperti pedagang tradisional, sebenarnya tidak perlu terjadi kalau pemerintah melaksanakan aturan yang jelas dalam menata zona tempat usaha sektor eceran modern.

    Berkembangnya bisnis eceran di Dunia cukup tinggi. Hal ini dibuktikan dengan semakin banyaknya perusahaan yang terjun pada bisnis eceran tersebut. Banyaknya perusahaan yang terjun pada bisnis eceran , tidak lepas dari banyaknya tuntutan konsumen untuk memenuhi kebutuhannya sehingga persaingan yang terjadi semakin ketat yang pada akhirnya perusahaan yang memiliki citra yang baik yang akan mampu mempengaruhi keputusan pembelian konsumen.

    Adapun desain penelitian yang digunakan adalah analisis deskriptif dan verifikatif. Sedangkan metode yang digunakan adalah metode survei. Teknik pengambilan sampel dilakukan secara acak. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, kuisioner dan disertai observasi, sedangkan analisis data menggunakan Rank Spearman.

    Prospek penjualan ruang ritel mulai triwulan IV-2008 diperkirakan masih positif, meski terjadi perlambatan pertumbuhan pasokan. Ekspansi peritel diperkirakan melambat sebagai antisipasi terhadap melemahnya daya beli masyarakat.

    Retailing, menurut Blackstone, John.H..(1985:02-08)

    Retail adalah suatu paket aktivitas bisnis yang menambah nilai pada produk dan jasa yang dijual untuk konsumen untuk diri mereka sendiri atau keluarga.

    Retail juga melibatkan jasa penjualan seperti rental video tape atau jasa pengiriman makanan.

    Retail adalah salah satu industri terbsesar di dunia. Perusahaan retail mengajukan kesempatan manajemen untuk orang yang memiliki kemampuan dan minat yang luas.

    Pelajar biasanya memandang retail sebagai bagian dari marketing. Karena management jalur distribusi adalah bagian dari manufaktur. Namun retail kebanyakan mengatasi aktivitas bisnis internasional.

    Retail memiliki pusat institusi finansial. Pembelian barang dan jasa; mengembangkan keuangan dan management informasi utnuk mengkontrol operasional; mengatur gudang dan sistem distribusi dan desain serta mengembangkan produk baru sama seperti aktivitas marketing, contohnya periklanan, promosi dan peneliatian pasar.

    Manager Retail biasanya selalu memberikan pertimbangan lebih awal atas tanggung jawab pada karir mereka.

    3 lingkungan yang patut di waspadai dalam dunia Retail:

    • Kompetisi.
    • b.Lingkungan trends dalam konsumen demografik dan gaya hidup pengembangan teknologi dan industri retail.
    • Kebutuhan, keinginan dan keputusan – proses pembuatan dari retail konsumen.

    Keterangan:

    1. Kompetisi.

    Kompetisi utama pengecer adalah yang mempunyai format yang serupa. Kompetisi antara pengecer yang menjual merchandise yang sama menggunakan format yang berbeda, seperti diskon dan departement store, inilah yang dinamakan intertype competition.

    1. Lingkungan Trends.

    Pengecer memerlukan respon untuk gaya hidup dan lingkungan demografik dalam komunitas kita. Seperti berkembang di posisi atas dan segmen minoritas. (ini berdasarkan populasi US).

    Jumlah penting dari orang-orang yang tertarik oleh posisi penjualan.

    Stratergi Retail mengindikasikan bagaimana perusahaan merencanakan utnuk fokus pada sumbernya untuk menyelesaikan keobjektifitasannya.

    Telah terindentifikasi:

    1. Target pasar melalui puncak dimana pengecer akan langsung mengarahkan kebutuhannya.
    2. Sumber dari merchandise dan jasa retailer akan diserahkan untuk memuaskan kebutuhan dari target pasar.
    3. Bagaimana pengecer akan membangun kemajuan jangka panjang disamping pesaing.

    Fungdi Retail; lebih spesifik, komunitas mengharapkan retailer untuk menyudahi fungsi distributif klasik oleh konsumen dalam kemajuan ekonomi:

    1. Untuk menciptakan pemilihan Produk dan Jasa dapat diantisipasi dengan mmenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen/ keluarga.
    2. Untuk memberikan Produk dan Jasa dalam kuantitas yang cukup kecil untuk diri sendiri atau kebutuhan keluarga.
    1. Untuk menyediakan / melengkapi pertukaran langsung untuk nilai melalui:
    • pengerjaan yang efisien untuk transaksi.
    • Jam yang fleksibel dan penyediaan tempat.
    • Informasi yang berguna saat menentukan pilihan .
    • Harga yang kompetitif.

    Menurut J.Barry Mason. (1985:09)

    Retail menyertakan seluruh aktivitas yang terlibat dalam penjualan barang-barang dan jasa untuk onsumen akhir.

    Retailing adalah bagian dari proses pemasaran. Pada akhirnyaretail diarahkan oleh organisasi yang berperan sebagai penengah dalam jalur distribusi. Jalur distribusi adalah interogasi sistem dimana produk dan jasa dipasarkan.

    Roda Teori Retailing.

    Menurut Prof Malcolm Mcnair. (1985:07)

    Tipe terbaru dari institusi pengecer yang memasuki pasar sebagai Low- margin, low-price, low-status. Pada akhirnya saat peningkatan kecepatan perdagangan, mereka menyediakan jasa baru dan meningkatkan fasilitas mereka melaui proses yang memajukan pengeluaran , margin dan harga konsekuen. Roda teori telah dikritik dalam beberapa point, seperti tidak semua operasi retail memulai dari Low-cost, Low-price outlets.

    Retail menurut Melvin Morgenstein dan Hsrriet Strongin.(1985:07)

    Retail mencakup penjualan barang-barang dan jasa untuk konsumen akhir mereka. Individu yang membei sesuatu untuk dirinya sendiri atau keperluan rumah tangga, seseoranf yang membeli tempat pembakarang atau kursi untuk kebutuhan rumah, itulah konsumen akhir.

    3 tipe utama dari bisnisnya terlibat dalam mendapatkan barang dan jasa untuk konsumen; manufaktur, wholesalers, dan retailers.

    Manufaktur: Seperti general motor dan guess, membuat produk yang membuat orang   ingin membelinya.

    Wholesalers: Pembelian dan distribusi manufaktur produk kepada retailers.

    Retailers: Menjual barang-barang dan jasa secara langsung pada konsumen akhir.

    Menurut Daniel .J. Sweeney.(1987:09)

    Retailing Management melibatkan penampilan fungsi klasik dari retailing kreasi pemilihan, penjualan besar-besaran dan persediaan untuk pergantian nilai yang level labanya diterima dalam karakteristik lingkungan dengan melanjutkan perubahan yang menegangkan dan respon kompetitor untuk perubahan tersebut.

    Menurut William.R.Davidson(1988:08)

      1. Kreasi pemilihan.

    Merchandise dalam komunitas kita- biasanya pembeli dan penjual dari barang-barang tersebut mempunyai peraturan yang unik dalam system ekonomi kita. Para mercahnt biasanya memproduksi, bagaimanapun juga membeli barang-barang tersebut untuk tujuan dari penjualan ulang demi laba.

      1. Penjualan Besar-besaran.

    Merchants akan menyerahkan produk dan jasa dalam kualitas yang cukup rendah  untuk di konsumsi secara individual atau keluarga.

    Tipe Kepemilikan:

    1. Rantai Toko.

    Dikarakterisasi oleh kepemilikan dari penggandaan unit retail dan pembelian terpusat dari merchandise yang sama untuk seluruh unit. Seperti sears dan Kmart.

    b.Waralaba.

    adalah format kepemilikan yang biasanya ditujukan untuk menggabungkan beberapa dari kemajuan bisnis kepemilikan mandiri dan rantai kepemilikan, sementara meminimalisir ketidakmajuannya.

    Waralaba menyertakan hubungan kontrak antara bisnis perorangan mandiri dan sponsornya..

    c.Sistem pemasaran vertikal.

    Ketika dua atau lebih urutan produksi proses distribusi terjadi dibawah kepemilikan dari firma perorangan.

    Sekarang retail menggunakan desain komputer dan teknologi komunikasi untuk merespon secara cepat perubahan kebutuhan konsumen.

    Setiap kali kita ingin membeli sesuatu di supermarket, kita tinggal menggunakan komunikasi elektronik dan memutuskan produk mana yang nantinya akan dikirim dari gudang ke toko keesokannya.

    Tren Industri Ritel Indonesia.

    Menurut, Alfa Retailindo (1996: 11-50)

    Seperti apa kira-kira masa depan yang akan dilalui oleh retailer di Indonesia ? Yang pasti masa depan akan lebih keras persaingannya. Untuk mempertahankan keunggulan kompetitifnya, retailer akan beroperasi dengan bentuk organisasi yang lebih ramping dan effisien. Pada masa datang retailer akan beroperasi dengan gross margin yang lebih rendah, biaya operasional lebih sedikit inventoi dengan perputaran barang yang lebih cepat.

    Biaya pembelian sistem & teknologi informasi yang semakin kompetitif serta menjamurnya internet dan software pendukungnya, membuat implementasi dari Efficient Consumer Reponse (ECR) akan menjadi praktek manajemen yang umum. Proses continuous replenishment, cross docking, supply & system integration, dan teknologi barcoding akan membuat retailer beroperasi lebih effisien dan intensif teknologi. Retailer yang tidak mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi akan tersingkir, dan akan digantikan oleh retailer yang beroperasi dengan dukungan teknologi yang lebih baik sehingga menghasilkan overhead yang rendah, volume tinggi, traffic tinggi dan harga yang kompetitif.

    Trend konsumen masa depan adalah Pay Less, Expect More, Get More. Konsumen masa depan adalah konsumen yang memiliki ekpektasi yang lebih tinggi, meminta lebih banyak, menginginkan kualitas yang lebih tinggi dan konsisten, lebih banyak pilihan, toko yang lebih nyaman dan pelayanan yang lebih bernilai, namun dengan membayar lebih murah, waktu lebih cepat, dengan usaha dan resiko lebih rendah. Dapat diperkirakan, kompetisi selanjutnya, tidak hanya pada harga, namun menyangkut variable lain yang berkaitan dengan value atas pengalaman berbelanja pelanggan.

    Di masa yang akan datang ketika transaksi virtual sudah menjadi hal yang umum, maka prasyarat sukses sebuah toko yang ditentukan oleh lokasi, lokasi dan lokasi, sudah bukan jamannya lagi. Bisa saja sebuah non-store retailing dapat mencapai sukses walaupun beroperasi dari sebuah kantor yang berlokasi di gang kecil di Jakarta.

    Dalam millenium baru ini beberapa trend yang sudah dan akan terjadi di Indonesia dan memberikan dampak bagi industri retail diantaranya :
    Gelombang masuknya retailer asing.
    Evolusi ke Format Retail Baru
    Meningkatnya keluarga dengan double income (suami-istri bekerja).
    Pertumbuhan kota-kota satelit disekeliling kota besar.
    Mobilitas yang semakin tinggi dan waktu luang yang semakin sedikit.
    Pembantu rumah tangga menjadi semakin mahal.
    Perkembangan pemakaian PC rumah tangga dan internet yang semakin tinggi.
    Perkembangan teknologi dan pemakaian Handphone-PDA.
    Bagian pertama dari tulisan ini khusus membahas gelombang masuknya retailer asing dan evolusi format retail di Indonesia.

    Indonesia memiliki potensi yang sangat besar bagi pasar retail. Dengan jumlah penduduk ke-empat terbesar di dunia setelah Cina, Amerika dan India, tidak heran jika banyak retailer asing mengincar pasar retail di Indonesia.

    Krisis moneter memberikan peluang yang sangat besar bagi retailer asing untuk masuk ke Indonesia. Dengan nilai tukar rupiah yang sangat lemah, mereka memiliki keleluasaan untuk melakukan ekspansi ataupun pembelian saham retailer lokal. Sampai saat ini paling tidak tercatat beberapa retailer asing yang gencar melakukan ekspansi atau menjalin partnership dengan retailer lokal misalnya Group Carrefour-Promodes mendirikan Paserba Carrefour, Royal Ahold membuka Tops (sebelumnya Ahold bermitra dengan PSP Food Retail), Lions dengan Superindo, Dairy Farm dengan Hero, dan IGA melakukan kerjasama teknis dengan Matahari. Beberapa retailer asing lainnya menunggu waktu yang tepat untuk masuk, misalnya Cassino dan Tesco.

    Persaingan ini juga diramaikan oleh retailer lain yang terlebih dahulu masuk ke Indonesia, misalnya Makro, Price Club, Toys R Us, ACE hardware, SOGO

    dan metro.

    Retailer lokal pun tidak tinggal diam. Retailer lokal banyak belajar dari masuknya retailer asing terutama Carrefour. Matahari mulai membenahi fokus usahanya dengan meninggalkan merek gerai Galeria dan Mega M-nya. Kini mereka lebih fokus pada pengembangan satu merek gerai yaitu Matahari. Sementara itu retailer lokal yang lebih kecil; terus mengembangkan konsepnya menjadi lebih memperhatikan kenyamanan, assortment, dan display; Misalnya Alfa, Diamond, Tip Top dan Hari-Hari. Di sisi lain retailer lokal yang telah mapan, cenderung melakukan pengembangkan format gerainya menjadi lebih besar dan lebih lengkap.

    Ramayana di outlet terbarunya di Mall Cileduk yang dibuka Oktober 2001, menyatukan format department store, supermarket, elektronik dan general merchandise dalam satu atap. Toko-toko berikut kelihatannya akan mengikuti kecenderungan ini.

    Melihat bahwa krisis keuangan di Indonesia sampai saat ini masih terus berlanjut, maka hal ini benar-benar merupakan pukulan bagi industri retail di tanah air. Berdasarkan data yang ada antara tahun 1996 sampai 1999, sektor tradisional retail menurun sebesar – 9.6%, sedangkan sektor modern retail menurun sebesar -1.6%. Dari data yang ada dapat disimpulkan bahwa pada masa resesi ini sektor modern retail lebih cepat melakukan recovery dibandingkan sektor tradisonal.

    Secara detail angka angka tersebut adalah sebagai berikut (dalam US Milyar): Tahun Modern retail Tradisional retail.

    Nilai tukar rupiah yang tetap melambung tinggi, sungguh sangat memberatkan retailer, terutama yang memiliki hutang dalam US Dollar. Dengan demikian, diperkirakan pada masa yang akan datang akan lebih banyak terjadi akuisisi dan merger antar retailer tersebut. Selain itu akan semakin banyak retailer asing dengan konsep baru masuk ke Indonesia. Sehingga makin memeriahkan kompetisi ini.

    Dalam sepuluh atau duapuluh tahun ke depan format retail yang ada seperti saat ini, misalnya supermarket, department store, convenience store dan hypermarket, akan pudar pamornya dan digantikan oleh format baru yang lebih sulit dibedakan garis pemisahnya antara satu format dengan format lain, antara retailer dengan food service/restaurant dan antara retailer dengan supplier (channels blur).

    Akan marak supplier (manufacturer) yang membangun jaringan retailer sendiri.

    Evolusi perkembangan format retail di Indonesia dapat di bagi atas beberapa tahapan. Dapat dikatakan format retail di Indonesia berkembang dalam siklus 10 tahunan. Namun demikian, ada kecenderungan siklus ini akan berjalan dalam periode yang lebih singkat. SMfr@nchise mencoba untuk membagi tahapan evolusi format retail di Indonesia (Jakarta) dan prediksi perkembangannya sampai tahun 2020.

    Evolusi format retail di Indonesia yang diolah oleh SMfr@nchise adalah sebagai berikut :
    Sebelum 1960-an : Era perkembangan retail tradisional berupa retailer atau pedagang-pedagang independen.
    Tahun 1960-an : Era perkenalan retail modern dengan format Department Store (Mass Merchandiser), ditandai dengan dibukanya gerai retail pertama SARINAH di Jl. MH Thamrin.
    Tahun 1970-1980-an: Era perkembangan retail modern dengan format Supermarket dan Department Store, ditandai dengan berkembangnya retailer modern (Mass Merchandiser dan Grocery) seperti Matahari, Hero, Golden Truly, Pasar Raya dan Ramayana.

    SURABAYA – Daya beli masyarakat cenderung menurun menyusul hantaman krisis finansial global. Dampaknya, omset sejumlah pusat perbelanjaan mengalami stagnasi. ”Kini pertumbuhan omset di dua bulan terakhir cukup sulit diraih. Namun, kami tetap yakin investasi dengan peningkatan penetrasi pasar adalah solusi terbaik,” kata Regional East Java and Kaltim PT Matahari Putra Prima Tbk Tjipto Suparmin, kemarin (13/11).

    Tjipto optimistis kalau perluasan gerai merupakan cara efektif untuk menaikkan omset. Terbukti, omset rata-rata perbulan tahun ini mencapai Rp 76 miliar, naik dibanding omset perbulan tahun lalu yang hanya Rp 58 miliar. ”Kami telah menyiapkan dana Rp 60 miliar untuk memperluas gerai Matahari di Tunjungan Plasa dengan konsep baru bertema New Generation,” timpalnya.

    Renovasi gerai tersebut akan dimulai pada Desember hingga Juli tahun depan. Jika semula hanya 15 ribu meter persegi, nantinya akan diperluas menjadi 19 ribu meter persegi. ”Perubahan konsep ini adalah yang kedua setelah di Kawaraci.

    Rencananya, secara nasional akan hadir enam gerai Matahari New Generation,” ujarnya.

    Sementara itu akibat melemahnya rupiah kini produk garmen impor mulai berkurang jumlahnya di pasaran. Ini karena banyak importir yang memilih untuk menahan diri hingga rupiah stabil.

    Persaingan bisnis ritel yang marak di beberapa tempat di sekitar Jakarta dan sekitarnya seperti Tangerang Bekasi dan sekitarnya mulai memakan korban. Tidak saja pemain kecil yang terkena bahkan pemain besar sekelas Hero pun mulai mengalami kesulitan.

    Pagi ini saya mendengar kabar dari pelanggan Hero Cinere Mal bahwa Hero supermarket tiba-tiba berganti nama menjadi Giant. Hal ini tidak dibarengi dengan perubahan apapun di dalamnya. Saya sendiri tidak tahu apa yang terjadi.

    Di negara Malaysia memang nama Giant tidak hanya dipakai untuk nama hypermarket melainkan juga untuk format supermarket. Apakah strategi itu yang akan dipakai?

    Kedua, hari ini saya melihat Giant Hypermarket Serpong Town Square yang berlokasi di pinggir jalan tol Jakarta Merak telah menghentikan operasinya dan memasang spanduk sedang direnovasi. Anehnya toko ini baru beroperasi satu tahunan jadi apanya yang direnovasi.

    Belum lagi beberapa bisnis ritel tradisional maupun moderen skala kecil menengah di daerah di mana bisnis ritel raksasa tersebut hadir. Semua mengalami penurunan penjualan yang berakibat kerugian dan penutupan outlet.

    Peluang bisnis ritel di Jatim masih terbuka dan siap menampung 60 gerai supermarket dan hipermarket lagi, kendati ekspansi pasar modern itu kerap ditengarai mengancam pedagang pasar tradisional.

    Ketua DPD Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Abraham Ibnu mengatakan potensi pengembangan pasar modern di Jatim masih cukup besar. Tingkat rasio antara jumlah supermarket, hipermarket dan minimarket terhadap total populasi penduduk di provinsi ini belum berimbang.

    “Setidaknya masih ada peluang sekitar 60 gerai supermarket dan hipermarket lagi untuk dikembangkan di Jatim. Jumlah itu tidak termasuk pengembangan minimarket yang potensi bisnisnya masih cukup besar,” ujar Abraham kepada Bisnis di Surabaya.

    Saat ini, kata dia, sebagian besar supermarket di Jatim beroperasi di Surabaya. Di luar itu relatif sedikit. Belum semua ibu kota kabupaten/kotamadya terdapat supermarket seperti Carrefour, Giant atau Makro.

    Meski di hampir seluruh daerah tingkat dua di Jatim telah berkembang pesat gerai minimarket.

    Bahkan sampai akhir 2008 masih akan ada sekitar 15 gerai minimarket baru yang siap beroperasi di Surabaya. Sementara sektiar 35 gerai akan beroperasi di Malang, Probolinggo, Banyuwangi dan Kediri. “Jadi akan ada tambahan sekitar 50 gerai minimarket baru.”

    Sampai Juli 2008, total minimarket di Jatim tercatat 1700 gerai. Sebagian besar merupakan gerai milik Alfamart dan Indomart. Sementara jumlah supermarket dan hipermarket mencapai 15 outlet.

    Rencananya sampai akhir 2008 akan ada tambahan 20 outlet baru. Jumlah itu termasuk tiga raksasa ritel asing yang saat ini sudah mengantongi perizinana untuk beroperasi di Jatim.

    Abraham tidak sependapat bila keberadaan pasar modern dinilai telah mengancam pedagang ritel di pasar tradisional. Pasalnya konsumen yang belanja ke hipermarket itu rata-rata hanya dua-tiga kali per bulan, sedang ke minimarket tiga sampai empat kali, sisanya masih didominasi belanja di pasar tradisional termasuk pedagang sayur keliling.

    Di tempat terpisah, Ketua Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APSI) Jatim HM Zaini menilai keberadaan supermarket di Surabaya tergolong jenuh.

    Jika masih akan ada yang buka lagi dapat dikhawatirkan akan mematikan pasar dan toko kelontong yang beroperasi di kampung dan perumahan.

    Menurut dia, saat ini sudah ada 83 pasar tradisional di Surabaya yang omzetnya terus menurun, meski lokasinya jauh dari pasar modern. “Pedagang memang tidak melapor ke PD Pasar Surya tetapi ke APPSI.”

    HONG KONG (Bloomberg): Penjualan ritel China naik 22%, hampir menjadi kenaikan tercepat dalam sembilan tahun, sehingga memberi sinyal permintaan domestik mampu menopang pertumbuhan ekonomi negeri terbesar keempat dunia ini untuk mampu bertahan dari krisis ekonomi global.

    Pendapat dari penjualan naik menjadi 1,008 triliun yuan (US$148 miliar) pada Oktober 2008, data statistik China hari ini. Pada September angka ini sudah naik 23,3% dari posisi September 2007.

    Pemerintah China berencana mengucurkan US$586 miliar sebagai paket stimulus ekonomi yang digunakan untuk meningkatkan belanja perumahan dan infrastruktur demi mengerem resesi. Permintaan ekspor produk China, penurunan angka penjualan real estate, menyebabkan pertumbuhan perekonomian negeri itu melambat hingga terendah dalam lima tahun.

    “Paket stimulus ekonomi bernilai miliaran ini memicu masyarakatnya untuk tetap belanja. Peningkatan konsumsi domestik dapat membantu menggairahkan perekonomian dalam beberapa bulan ke depan,” kata Arthur Kroeber, head of research Dragonomics Advisory Services Ltd di Beijing.

    Indeks saham CSI 300 naik 1,2%. Yuan menguat menjadi 6,8285 per dolar AS pada pukul 3:58 p.m waktu Shanghai dari 6,8305 sebelum pengumuman angka ritel ini.

    Pelaku usaha minimarket bermerek lokal wajib waspada mengantisipasi masuknya minimarket asing. Pasalnya, meski akses investasi langsung pelaku minimarket asing ke Indonesia ditutup, pemerintah tetap mengizinkan ekspansi minimarket merek asing dengan pola waralaba.

    Ketua Harian Asosiasi Peritel Indonesia (Aprindo) Tutum Rahanta mengungkapkan, dengan diizinkan masuknya peritel asing dalam bentuk waralaba maka ekspansi mereka dapat menembus seluruh wilayah nusantara.

    “Dengan bentuk waralaba, maka sangat terbuka ekspansi sampai ke daerah-daerah, bergantung pada kebutuhan pasar,” kata Tutum, Selasa (11/10).
    Sebelumnya, Menteri Perdagangan menegaskan, minimarket asing hanya dapat masuk ke Indonesia melalui sistem waralaba karena Peraturan Presiden (Perpres) No 111/2007 melarang investasi langsung minimarket asing.

    “Investasi langsung minimarket asing secara aturan tidak boleh. Mungkin dia masuk sebagai franchise (waralaba),” kata Mari Elka Pangestu kepada Antara, menanggapi rencana masuknya minimarket asal Jepang 7-Eleven ke Indonesia.

    Pemerintah memang menutup investasi asing langsung di bidang ritel, khusus minimarket. Investor asing masih boleh masuk untuk pembangungan departemen store dan pasar moderen.

    Menurut Tutum, dengan masuknya pemain asing, pemerintah perlu lebih menjalankan peran dalam mendukung pertumbuhan bisnis ritel, khususnya minimarket. Selama ini pemerintah belum menunjukkan keberpihakan dalam mendorong perkembangan pelaku usaha minimarket.

    Padahal di samping merek besar seperti Alfamart dan Indomart, banyak peritel lokal di daerah yang bergerak dalam usaha minimarket. “Pemerintah perlu support, selama ini peraturan belum mendukung. Misalnya perizinan masih dibutuhkan waktu yang lama untuk mendirikan minimarket,” kata Tutum.

    Alfamart Optimistis
    Sementara itu, PT Sumber Alfaria Trijaya, sebagai pengelola dan pemilik hak waralaba minimarket Alfamart, segera menambah operasional empat gudang pusat distribusi atau distribution center di lima wilayah antara lain, kota Balaraja, Malang, kawasan Jababeka, dan Bandung.

    Manajer Korporasi Komunikasi Alfamart Didit Setiadi mengatakan, dua dari gudang baru itu merupakan gudang substitusi dan dua lainnya gudang baru, yaitu di Kabupaten Malang dan Kota Bandung.

    “Kami membangun gudang baru di kawasan Jababeka sebagai pengganti gudang di Bekasi, sedangkan pusat distribusi yang di Balaraja, sebagai pengganti gudang di Serpong (Tangerang). Kami harapkan (pembangunannya) rampung sebelum akhir 2008,” tutur Didit.

    Menurut Didit, satu gudang mampu menyalurkan produk-produk di 300 hingga 400 gerai Alfamart yang berada di sekitar lokasi gudang. Pihaknya optimistis dapat menaikkan penjualan hingga 300 persen pada triwulan III 2008 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
    Jumlah gerai Alfamart per Juni 2008 tercatat 2.505 unit. Dari jumlah itu, 40 persen di antaranya merupakan toko waralaba. Pada 2007 Alfamart memiliki 2.200 gerai.

    Diakuisisinya Alfa Supermarket oleh Carrefour dan Hero oleh Giant semakin memperkuat pondasi jaringan toko raksasa raksasa dunia untuk semakin eksis di Indonesia, kita lihat saja di beberapa kota besar di pulau Jawa terasa sangat kentara, bukanya raksasa ritel baik dari luar negeri maupun dalam negeri tidak bisa di hindari, sementara dari kebijaksanaan dan pengaturan perangkat perundang undangan yang belum terasa memihak pelaku usaha menengah dan pedagang kecil.

    Disisi Lain kita bisa melihat semakin pesatnya “chain store” jaringan toko seperti Indomaret dan Alfamart yang menjemput bola ke konsumen semakin dekat seperti ke perumahan dan pelosok pelosok desa terpencil membuat nuansa berbeda dan merupakan pilihan baru bagi masyarakat yang belum pernah mwlihat konsep belanja modern.

    Di kelas kecamatan kecil di pelosok desa pun dengan mudah kita bisa temukan jaringan mini market keduanya, namun apakah hal ini menggangu eksistensi pedagang kecil serta pasar tradisonal secara langsung, mungkin jawabannya tidak secara langsung karena segmen mereka berbeda.

    Anda bisa bayangkan ketika gula di rumah Anda habis atau Anda butuh telur sekedar 1-2 buah, rasanya akan berpikir untuk belanja ke ritel dengan format formal walaupun tidak ada larangan.

    Sebagian besar masyarakat kita masih belum terbiasa belanja dengan format formal seperti di Supermarket dan Mini Market apalagi ke Hipermarket

    Bagaimanakan kiat bersaing dengan jaringan toko moderen? sebetulnya tidaklah susah namun juga tidak mudah. Selama ini UKM di ritel belum ada yang memfasilitasi dan

    mensupport secara konsultasi, manajemen dan bantuan support finansial berupa kemudahan kredit dll. Kalaupun mereka sebagian berubah karena inisiatif mereka sendiri.

    Baik pemerintah pusat maupun di tingka daerah belum mengambil langkah riil dan nyata untuk mengembangkan serta membantu mereka, padahal jumlah dan potensi mereka cukuplah besar . Bila potensi ini dikelola dengan bagus akan menjadi kekuatan ekonomi tersendiri.

    Pada umumnya pedagang kecil dan usaha eceran tradisonal masih mengunakan sistem dan manajemen yang sangat tradisonal dan konvensional.  Baik dari sisi infrastruktur maupun secara sistem dan manajemen.

    Keadaan seperti ini tidak bisa dibiarkan berlangsung lama kedepan perlu kebijaksanaan yang signifikan untuk bisa merubah dan membantu sektor ekonomi ini.

    Seiring dengan pesatnya pertumbuhan jaringan toko moderen tadi kita akan menjadi bagian dari penonton yang melihat kemana arah perekonomian sektor ritel kedepan? Bagaimana menurut Anda?

    Berkembangnya bisnis eceran di Indonesia beberapa tahun terakhir ini cukup tinggi. Hal ini dibuktikan dengan semakin banyaknya perusahaan yang terjun pada bisnis eceran tersebut.

    Banyaknya perusahaan yang terjun pada bisnis eceran , tidak lepas dari banyaknya tuntutan konsumen untuk memenuhi kebutuhannya sehingga persaingan yang terjadi semakin ketat yang pada akhirnya perusahaan yang memiliki citra yang baik yang akan mampu mempengaruhi keputusan pembelian konsumen.
    Borma Dakota Pasar Swalayan Bandung sebagai salah satu pelaku dalam jasa penjualan eceran tidak akan terlepas dari kondisi tersebut.

    Oleh karena itu Borma Dakota Pasar Swalayan Bandung juga di tuntut untuk memiliki citra yang baik agar mampu mempengaruhi keputusan pembelian konsumen. Maka dari itu penulis mengambil judul “ Pengaruh Citra Toko terhadap Keputusan Pembelian Konsumen”.

    Adapun desain penelitian yang digunakan adalah analisis deskriptif dan verifikatif. Sedangkan metode yang digunakan adalah metode survei. Teknik pengambilan sampel dilakukan secara acak.

    Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, kuisioner dan disertai observasi, sedangkan analisis data menggunakan Rank Spearman.

    Dari hasil penelitian terungkap bahwa citra toko Borma Dakota Pasar Swalayan Bandung kurang baik di mata konsumen di pandang dari lokasi yang kurang strategis, desain dan fasilitas fisik yang kurang menarik, promosi penjualan yang dilakukan tidak mampu menarik minat konsumen dan pelayanan pelanggan kurang ramah.

    Sementara untuk keputusan pembelian konsumen meliputi tahap-tahap dari pengenalan masalah konsumen tidak termotivasi belanja karena Borma Dakota memiliki citra yang kurang baik, pencarian informasi mengenai Borma Dakota juga masih sulit konsumen dapatkan, penilaian alternatif yang dilakukan konsumen juga dengan membandingkan Borma Dakota dengan tempat lain sangat tinggi dan kepuasan yang dirasakan konsumen setelah belanja di Borma masih sangat rendah.

    Hubungan citra toko terhadap keputusan pembelian konsumen Borma Dakota memiliki hubungan yang signifikan sebesar 0,217, sedangkan pengaruh citra toko terhadap keputusan pembelian konsumen sebesar 4,71%, sedangkan sebesar 95,29 citra toko dipegaruhi oleh faktor-faktor lain yang tidak dipelajari dalam penelitian ini.

    DAFTAR PUSTAKA

    Michael Levy., and Barton. A. Weitz (1985:07) , “Retailing Management”

    Blackstone, John H., and J.F.Cox (1985), Inventory Management Techniques, “Journal of Small Business Management, 23 april, (02-08)

    William. R. Davidson (1988:08), Retailing Management

    Prof  Malcolm Mcnair (1985:07), “Retailing Management

    Rosenberg, Iris. S (1986), “U.S Discounters Study European Mass Markets, “Discount

    Store News, 25 april, (02-10)

    J.Barry Mason (1985:09), “Retailing Management”

    Retailindo,Alfa (1996:11-50), “Tren Industri Ritel Indonesia”

  • Hello world!

    Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

    Ikuti

    Get every new post delivered to your Inbox.